Ulasan

 Aku berada di keadaan sadar dan tetap berjaga

Perlahan luka menutup tanpa terasa

Ketika kata “ikhlas” telah banyak disarankan mereka

dalam perjalanan mencapai kenyataan yang sebenarnya

 

Benci mungkin tidak,

Walau benak tak henti-hentinya menebak

untuk masa depan tak terlihat tertebak

tentang dia yang telah menjebak

 

Hidayah-Nya sungguh tiada tara

Menyinari hati yang sedang merana,

Tercela dan tersiksa

Maha yang diagungkan oleh semuanya,

yang di Tangan-Nya mengalir asmara untuk hamba

dalam kesedihan tiada tara.

Ulasan, tanpa alasan mengembalikannya di jiwa

Advertisements

Tiga titik

Dua selalu membelenggu

pada kisah yang menjadi satu.

Perpisahan acapkali bercerita sedih

Terbawa waktu hingga tak sadar menjadi peluh

Peluh yang melusuh diantara kediaman kita

Dan kita menjadi kata

Yang berderik di lembaran-Nya

Menjadi seorang pengamat

Beberapa hari ini orang-orang di sekitar nampak seperti kehilangan senyuman. menggantinya dengan tawa palsu dan topeng agar terlihat baik-baik saja. Aku sekali lagi, bisa melihat perubahan gerakan garis dan warna wajah mereka. Hidup sebagai seorang pengamat tidak pernah mudah. Jelas, aku tak pernah meminta ini pada Tuhan. Kebiasaan ini aku asah secara tak sengaja sejak duduk di bangku Te-Ka dan berlangsung sampai dewasa. Sehingga seakan-akan kaulah yang bertugas menarik kesimpulan dari peristiwa orang-orang terdekatmu.

Kehidupan selalu tak pernah terlepas dari kasus mencinta-dicinta-mencinta (tiga titik maut). Tatkala semua subyek adalah orang terdekat yang mempercayakan ceritanya kepadaku dan sirat-sirat mata mereka beradu nyata terlihat. Rasa-rasanya aku ingin menghilang seketika, menyaksikan maksud dari sorotan mata yang banyak berbicara. Seseorang pernah mengatakan untuk bersikap acuh, tapi apakah aku di sini hanya untuk bersikap acuh? bagaimana jika aku memang sengaja ditempatkan oleh-Nya untuk menilai, mengambil hikmah bahkan membantu mereka?. Ini teka-teki, lebih susah dari teka-teki angka ibu di rumah.

Beberapa hari kemudian, ku temui lagi seorang yang kuanggap dekat menekuk mukanya hingga layaknya alat musik akordeon. Ketika ada pemantik humor dia mengendurkan kulit wajahnya (senyum palsu) dan kembali mengerutkan garis wajahnya selepas tersenyum. Aku sebal sebenarnya menerka-nerka keadaan orang lain. Tapi, aku yang penasaran segera membuat jalur jalan tikus di kepala dan membuat sebuah gagasan asal. Kadang, ketika seseorang terlihat murung beberapa bagian dirimu pun ikut sedih. Kau ingin tahu apa masalahnya dan mencoba membantu, tapi kau seakan tak punya hak untuk itu.

Hari-hari telah terlewat, banyak cerita bertumpuk, berpacu di kepala untuk di ambil benang merah. Malam ini aku telah mendapat cara yang lebih sehat untuk membantu orang terdekat dalam cerita tiga titik maut. Tanpa sengaja yang mungkin ada campur tangan-Nya. Tapi aku belum menemukan jalan untuk membantu si muka akordeon ini. Semoga ia segera pulih kembali dan gila seperti biasanya. Dan juga di kemudian hari aku bisa sedikit membantunya, setidaknya ia tahu aku menulis ini sedikit lebih juga berusaha untuk memulihkannya.