Obrolan

Siang itu rasanya sudah tidak seliar dulu. Gemetar, gagap, gugup, ditambah rasa seolah ada kupu-kupu beterbangan dari perut. Aku lebih tenang, kamu lebih pandai merangkai kata. Kita terbius kalimat-kalimat mengasikkan.

Aku, belum pernah senyaman ini berbicara denganmu. Mendobrak meja dan nada bicaraku yang meninggi ketika emosi bisa kuluapkan. Bukan, bukan marah denganmu. Melainkan dengan cerita-ceritaku di kepalaku yang kusut. Kamu, masih saja santai. Duduk dengan sedikit senyum sambil mengamati aku.

Lalu, sampailah kita di obrolan sebuah perasaan dari orang tua. Kamu bercerita bahwa orang tua selalu tidak ingin terlihat menunjukkan perasaannya. Aku setuju. Bercerita tentang keluargamu, kucingmu, dan dosen-dosen yang memperlambat skripsimu. Jujur, bukan itu sebenarnya yang ingin kuobrolkan tapi, aku cukup senang bisa mengetahui itu.

Dari sekian panjangnya kata percakapan, jalan pikiran dan bahasa tubuh serta pertemanan selama dua tahun ini, Kamu tak layak hanya dijadikan seorang teman, tapi pasangan untuk masa depan  🙂

 

Advertisements

Berteriak bersama

Angin malam yang sudah biasa dilewati,

Menjadi kawanan pengiring tabuhan diri

Melintasi sesuatu yang bergerak di dalam sini
Bergejolak dan meraungi

Kata terkatup menutup
Pandangan tak bisa disuap
Beradu terantuk dan siap-siap
Hap

Disepersekian detik ada yang meneriaki,
Aku di sini !
Aku (juga) di sini !
Mereka berkata, berteriak dalam hati

Warna

Jumat pagi merona

Di bawah terpaan cahaya

Aku melihatmu tak sengaja

Bertatap-tatap melewati kaca

 

Jumat pagi merona

Lihatmu sampai diujung jalan sana

Membakar tenaga untuk bahagia

Kamu masih nyata

Di dua tahun adanya