Langit Biru, Lapangan, Nisan Dan Kuas

kebunkini kau telah pergi ke dunia yang tenang kawan via http://fppi.fkip.unila.ac.id/2014/10/

Langit di atas masih berwarna jingga gelap bercampur biru. Kala itu aku sedang dalam perjalanan hendak pulang kerumah dari masjid. Aku berjalan sendiri menyusuri lorong-lorong waktu masa lalu. Aku masih ingat ketika itu, sama seperti di saat senja ini. Aku masih bisa merasakan pusaran waktu sekarang membawaku ke masa lalu yang tak bisa dilupakan.

Aku masih ingat ketika aku menatap langit senja setelah aku pulang dari  masjid. Aku merasa tenang di hati, Tuhan telah menganugrahkan semuanya padaku dengan lengkap. Walaupun keluargaku tergolong sederhana aku tetap merasa tercukupi secara ekonomi dan kasih sayang. Orang tuaku hanya pedagang makanan biasa di rumah. Aku masih SMA kala itu.. Semuanya berubah dengan cepat dan tanpa ku sadari. Dulu aku masih sering mengaji ketika di masjid walaupun itu hanya seorang diri, kulakukan karena aku tak bisa melakukan apapun. Hanya do’a yang bisa ku panjatkan kepada-Nya. Di sekolah pun aku merasa ada malaikat yang membuatku tenang ketika menuntut ilmu. Aku jadi tenang sehingga mudah menerima ilmu yang diberikan guru.

Aku juga melihat rumput-rumput di lapangan depan rumahku sudah tinggi-tinggi.di pinggir bagian utara juga sudah ditumbuhi 4 pohon talok. Aku tak bisa lagi melihat langit luas dari depan pintu ketika melihat indahnya sore yang cerah.  Dulu lapangan itu setiap sore digunakan untuk  bermain sepak bola oleh remaja di desaku. Dan aku masih bisa melihat langit luas berwarna biru cerah di atas gunung lawu. Ramai sekali apalagi kalau pas acara agustusan. Ibuku bisa laris warungnya dengan berdagangan es. Ada seorang temanku yang dekat denganku dulu yang juga sering bermain sepak bola di lapangan itu.

Ketika kulihat jalan menuju rumah pun kini baru selesai di aspal lagi. Dulu jalan ini tak separah ini dan masih halus untuk di lewati. Suara kakiku terdengar sangat berisik saat aku menapaki jalan yang baru ini. Aku tersenyum sembari jalan perlahan dengan melihat sekitar.

Dulu aku sering termotivasi dengan arah jalan menuju rumahku. Jalan itu hanya mempunyai satu belokan dan jika aku sudah berbelok kudapati langit tinggi di depan yang luas. Aku sering menganalogikan awan yang berwarna jingga di depan itu adalah cita-citaku. Sedangkan jalan yang kulewati setiap hari adalah jalanku menuju asa itu. Dan batu-batu kecil itu bisa membuatku tersandung apabila aku tak berhati-hati terhadapnya. Walaupun hanya begitu aku cukup terdorong ketika aku tak bersemangat.

Aku rinduu ternyata dengan masa lalu… Jika bisa aku ingin kembali ke sana sejenak lalu  kembali lagi di waktu ini. Aku rindu dengan langit biru dimana aku berangan-angan jauh. Aku rindu saat dia menatapku dan tersenyum dari lapangan sambil hujan-hujanan (kasihan ya, tapi biarin aja biar aku senang hihi). Aku rindu rumput lapangan yang sering kugunakan untuk bermain dengan temanku. Aku rindu… Andai ada alat yang bisa membawa ke masa lalu sejenak.

Aku tahu masa lalu hanya bisa di kenang dan dijadikan tolak ukur perbandingan dengan masa depan. Aku cukup mengerti tentang ini. Tapi.. Masa lalu bisa menjadikan kita lebih rendah hati terhadap apa yang terjadi di masa kini. Kini aku sudah berkuliah di universitas yang bergengsi di indonesia dan nomor 1 di negaraku. Aku sangat bahagia tentunya. Tapi semua ini tak akan mengubah dan melupakan kenanganku di masa lalu.

Ketika sahabatku muslimat meninggal pun aku masih ingat. Aku masih kelas 1 SMA waktu itu, dan aku tak percaya. Namun takdir  memang tidak salah. Ia telah meninggal karena kanker otak yang tidak di sadarinya. Dia selalu mimisan ketika kami masih duduk di bangku SMP. Tapi aku dan sahabatku yang lain mengacuhkannya. Aku menyesal telah menyuekkannya dan menganggap dia anak aneh. Padahal dialah yang berhati besar untuk keluarganya. Dia termasuk sahabat terbaikku diantara sahabat-sahabtku yang lain.

Kemudian waktu itu aku ajak temanku menuju rumahnya dan berziarah ke pemakamannya. Temanku tak sanggup dan tak percaya melihat batu nisan itu atas nama dia. Bahwa di bawah gundukan tanah yang gembur itu ada jasad sahabatku, muslimat. Ayah dan ibu muslimat pun tak kuasa menahan air mata mereka ketika bercerita tentang anak sulungnya. Kami pun semakin sedih dan juga tak tahan menahan buliran air di sudut mata.

Lalu bayangan tentang muslimat hilang berganti dengan gambar cat air dan kertas A3 di depan jendela. Aku sering berlatih melukis di sana.. Menghabiskan waktu luang di depan jendela hanya untuk melukis pohon. Aku suka melukis, apalagi kalau gradasi warna. Meskipun itu lama untukku tapi aku sangat menyukainya dan teliti dalam menyatukan warna yang kontras. Aku  belum bisa melukis sempurna tapi aku ingin berusaha melukis seperti  temanku yang pandai dalam hal menggambar.

Advertisements

Gadis T

Hallo.. Maaf setelah sekian lama melupakan blog ini dan membuatnya berjamur wkwk *lebay*

Kali ini ada suatu cerita kecil yang mungkin bisa menjadi insiprasi kepada teman-teman yang membaca ini. Cerita  tentang seorang gadis kelahiran temanggung yang tinggal di jambi. Sebut saja mawar *ehh* si T maksudnya. Seorang gadis yang kuat pendiriannya, mandiri, cerdas, dan pendiam. Oke, cukup penasaran dengan gadis ini bukan? Mari kita simak sekelumit potongan kisah tentang gadis ini.

Suatu malam aku sedang berjalan sendiri ketika hendak pulang membeli makan. Menyusuri jalanan bising dan bau asap oleh kendaraan yang lalu lalang. Dari jauh,  arah yang berlawanan dariku, ter lihat sosok gadis berkerudung ungu tua  membawa keresek dan menggendong tas ransel warna hitam. Mukanya terlihat cukup lelah yang ditandai dengan kepalanya menunduk ke arah tanah. Namun, begitu raut wajahnya masih terlihat cukup anggun bagi seorang yang sudah letih. Dari arah jauh aku sudah memasang wajah ingin menyapanya, lalu dia rupanya mengerti bahwa aku dari arah yang berlawanan. Kami lalu saling bersapa senyuman lalu berjalan masing-masing lagi. Yah. Hanya itu, hanya itu yang terjadi malam itu dan aku sudah bisa mendiskripsikan tentangnya.

Aku teringat satu setengah tahun yang lalu, ketika kami masih semester awal dan jadwal kegiatan kami belum sepadat ini. Sangat ingat, ketika kami saling bertukar ilmu sampai menginap di kosnya, dan berjalan bersama dengan rasa persahabatan yang sangat menyenangkan. Seketika berpapasan dengannya seakan aku tersengat listrik, bagaimana tidak?

hijab

“Dia cukup kukuh memegang prinsipnya, sederhana, dan pendiam. Dia memutuskan untuk benar-benar menuntut ilmu di kota ini dengan prinsip yang diakuinya. Meskipun banyak sekali pria yang mencoba mendekatinya namun ia tetap tak goyah, tak termakan omongan. Dari pria baik-baik sampai yang hanya iseng menggodanya”.

Sungguh, aku benar-benar salut dengannya. Menurutnya kesendirian itu adalah saat yang bebas, kau tak perlu ragu untuk melakukan hal apapun, mengkhawatirkan seseorang, buang-buang uang untuk makan ini dan itu, dan menyiapkan hati untuk di sakiti. Dengan kesendiriannya dia bahagia, bahkan dia dapat membuktikan bahwa semua tetap baik-baik saja dan berjalan sangat indah. Sifat kesehariannya pun sederhana, walaupun mungkin keluarganya terihat mampu. Dia pernah suatu waktu bercerita, bahwa uang jajannya ia sisihkan untuk ditabung dan makan secukupnya.

Apalagi  yan kurang dengan konsep dirinya? Ah, aku rasa semuanya cukup menjadikan kita dewasa dan bijak terhadap masa depan yang akan datang. Untuk tambahan lagi, sekarang dia cukup sibuk dengan perannya sebagai asisten 3 lab. Belum lagi ditambah tugas, laporan, dan jarkoman untuk kami teman seprodinya. Dia pun masih menggeluti bisnis jual pulsanya, ah ya rapat kkn yang dilakukan setiap minggu juga bahkan mengurangi waktunya untuk istirahat dan belajar. Tapi apa? Dia bisa mempertahankan IP sempurna selam 3 semester berturt-turut. Kau tahu, apa yang dia pikirkan saat semester pertama? Dia berpikir,  mengapa aku tak pernah punya teman? Apakah karena sifat yang pendiam menjadikan introvert sejati? Bagaimana kehidupanku berjalan nantinya? Tapi kini?

Dia dapat mengatasi semua gundah yang ada, menjadi asisten dan aktif bertanya serta berkomunikasi dengan semua orang menjadikannya lebih terbuka. Apa yang dia cemaskan kandas sudah, dia bisa. Ya.

tumblr_lf8niyyhUT1qafc06o1_500_large-750x501

Aku memang bukan teman dekatnya, hanya teman sepermainan saja. Namun, entah mengapa sangat bahagia ketika mengenal gadis sebaik dia yang mempunyai prinsip begitu kuatnya. Aku bahagia karena orang-orang baik masih ada di sekelilingku. Masih menjadi cerminan akan tingkahku yang buruk. Dia juga gadis yang taat beragama namun tidak tunjukkan dengan hal yang berlebihan, bijaksana menaggapi masalah yang ketika aku hadapi harus kutangani dengan kaku. Terimakasih temanku, hanya dengan berpapasan aku menjadi semangat kembali.

NB: ijinkan temanmu ini menuliskan sepotong kisah tentangmu

PPMBR #2

kemarin tepatnya tanggal 14 juli saya berangkat ke madura untuk melaksanakan program pengabdian. program ini di dirikan oleh 5 fakultas yang ada di universitas gadjah mada. yakni fakultas teknik, geografi, pertanian, peternakan dan satu sekolah vokasi.

acara ini berlangsung hingga tanggal 18 juli 2014. di sana bertepatan dengan pelaksanaan KKN-PPM UGM, sehingga pada hari pertama kami melakukan perkenalan dengan TIM KKN. program yang di angkat antara lain inventarisasi buku, vertikultur dan pembuatan pakan fermentasi. inventarisasi buku dilakukan oleh mahasiswa dari sekolah vokasi dan dibantu oleh sub bidang yang lain. buku-buku yang di bawa dari yogya sekitar 100 buku yang di angkut ke dalam 3 kardus.

selanjutnya, dari PPM pertanian mengadakan vertikultur. yakni penanaman tanaman hortikultura dengan menggunakan limbah plastik botol. vertikultur ini dilakukan dengan memotong seperempat bagian dari botol yang selanjutnya di tanami benih sayur. sayuran yang kami pilih adalah kangkung, selada dan sawi. hal ini dikarenakan komoditas sayuran di daerah pangpajung, madura masih tergolong mahal sehingga masyarakat diinginkan agar lebih hemat dan mandiri.

terakhir adalah pembuatan pakan fermentasi. pakan ini di buat untuk hewan ternak khususnya sapi. bahan-bahan yang di gunakan seperti pohon pisang, jerami, EM4, molase dan dedak. pohon pisang di cacah agar lebih kecil ukurannya. caranya dengan mencampurkan molase dan EM4 yang berisi bakteri. setelah itu larutan tersebut di tuangakan ke dalam campuran dedak, cacahan pohon pisang dan jerami. laangkah tersebut dilakukan berulang hingga isi tong penuh. adanya pakan fermentasi ini dimaksudkan agar dapat menjadi persediaan pakan di musim kemarau ketika tidak ada rumput. proses fermentasi ini berlangsung selama 3 hari.

oke.. cukup sekian catatan singkatku selama di madura. selamat membaca cerita selanjutnya ya kawan 🙂

Cerita Kemarin Siang

Kadang seseorang itu tidak pernah tahu apa yang kita lakukan. Kita sudah benar-benar jujur, berniat lurus, berusaha berhati-hati dan tulus melakukan dari hati. Tapi mereka masih tak peduli dengan sikap kita seperti itu. kadang mereka hanya diam, tidak mau menjelaskan dan membuat kita bingung. Sampai tidak tahu apa salah diri kita sendiri. Mereka membiarkan kita mencari sendiri jawaban itu. bahkan jika mereka lebih tega lagi, membiarkan jawaban itu kita cari selama bertahun-tahun. Terhambat oleh waktu.

Kadang mereka telah pergi dan tidak ingin mengenal kita lagi tanpa kita tahu apa salah kita. apa mereka tahu bahwa kita benar-benar jujur, tulus, dan berniat lurus sebenar-benarnya? Kita sudah berusaha tampil sebaik-baiknya. Menyembunyikan hal terberat yang kita alami demi mereka agar mereka mau menerima kita dengan baik. memang, ada mereka yang tidak mau tahu apapun itu, apapun yang terjadi pada hidup kita. karena mereka bukan siapa-siapa kita. tapi, sebagmenyesalai orang yang berelasi dengan kita. apakah mereka tidak mau peduli akan hal ini?

Apalagi jika itu hanya kesalahpahaman. Apakah mereka membiarkan kita selalu di kejar kesalahan yang tidak kita ketahui sendiri apa itu? kita hanya takut jika mereka tidak akan menerima kita selamanya. Kita mencoba menghindar jika itu buruk bagi kita. tapi, bukankah waktu selalu adil? Kadang dia menemukan kita dengan mereka yang bersikap seperti itu.

Sampai kapan harus seperti ini? Rasanya jelas tidak enak jika merasa bersalah tanpa tahu kesalahan itu apa. Apa kita yang tidak mengerti  atau bagaimana? Kenapa mereka tidak tahu sedikitpun usaha kita? aku hanya berharap pada Tuhan agar menunjukkan hal yang sebenarnya pada kami. Dan hanya Tuhan yang tahu dan Maha adil. Sungguh kita tidak boleh berlaku sombong, karena kita hanya makhluk lemah dan dengan di beri akal saja kita menjadi mulia. Jika kita tidak menggunakan akal dengan baik bukankah kita kurang mulia?

Sibuk vs Diam tak bergerak

Hari-hari menjelang UAS sangatlah sibuk apalagi bagi yang tidak punya catatan pinjam sana pinjam sini. Tapi syukurnya aku mencatat setidaknya walaupun tidak selengkap omongan dosen. Akhir –akhir ini juga aku banyak malasnya, bangun pagi paling jam 4. Sekarang tidak pernah bangun jam 3 padahal besoknya UAS dan aku malah tidur. Sedangkan anak lainnya belajar semalam untuk besok. Entahlah, kenapa aku semalas ini. Aku takut kalau semuanya yang ada mengecewakanku. Aku juga sudah tidak sesibuk hari kemarin mengurusi acara dll. Semuanya telah usai dan mungkin semester depan aku sudah keluar dari organisasi ku ini. Entahlah, semuanya kadang membuatku kapok. Tapi, apakah yang akan terjadi kalau aku tidak bersosialisasi dan bergerak seperti di organisasi? Kadanga aku juga tidak mau hidup hanya di kos terus-menerus. Aku ingin bergerak melakukan sesuatu yang menjadi passionku. Aku ingin menemukan itu dan terus mengembangkannya. Tapi aku terlalu bayi..

Beberapa minggu ini aku banyak diam di kos, hanya membaca buku, melihat film, kalu tidak belajar. Hanya itu yang bisa aku lakukan, kalau tidak main bersama teman-temanku, dikampus lagi dan sudah. Semua orang juga bisa melakukan itu, pikirku kesal. Tapi aku ingin berepot-repot ria ketika hal ini datang. Memang ya, diam tidak berbuat itu memang capek dan buat apa jadi mahasiswa?? Ya, aku ingin mendapatkan arti mahasiswa yang sesungguhnya. Sebagai pelayanan kepada rakyat.. Tapi aku belum cukup mumpuni jika melakukan hidup dengan mereka. Aku harus ditempa dahulu dengan ilmu dan pengalaman. Inllah ujian dalam penempaan diriku. Aku tidak boleh malas lagi, masih banyak orang yang membutukan kita. Rakyat, dan bangsa ini. Sedikit perubahan bisa menjadi titik cerha bagi bangsa ini. Aku cinta indonesia, aku ingin memberimu secuil hasil tempaanku kepadamu.

Di lain sisi, ketika aku merepotkan diri dengan tugas kuliah, organisasi dan urusan tentang membuat suatu event. Aku merasa tak mampu, selalu mengeluh, tidak efektif sehingga timbul rasa putus asa dalam diri. Hal itu berujung pada penempaan yang tidak sempurna. Semua ini tentang tanggung jawab kepada negara, orang –orang terdekat, bapak-ibu, dan rakyat.

 

wanita memang harus waspada

wah lama ya kira-kira tidak menulis lagi, kali in aku bakal ngasih tips dan share tentang salah satu buku bagus. buku ini bercerita tentang wanita, agama, cinta sampai yang paling dalam deh tentunya dengan pandangan islam. penasaran sama buku apa nih aku kasih gambarnya ya, mungkin sebagian orang pernah lihat bahkan membaca buku ini (sering ke gramed sih hehe). namun untuk yang belum pernah baca bisa disimak sebentar tulisan ini.

sekilas melihat sampul depannya yg jreng kita langsung mengetahui bahwa penulis akan membahas tentang cinta, jatuh cinta, cinta jatuh dan sebagainya hehe. buku ini juga menghadirkan gambar visual yang menarik serta tulisan warna-warninya. pokoknya cocok deh bagi yang jatuh cinta, eh tapi sebentar dulu ya ini dalam pandangan islam lho :).

Gaya bahasa yang renyah (emang kentucky), ringan, fleksibel,dan to do point  buat kite-kite jadi betah buat baca. hmm oke basa basinya sekarang bakal di incip sedikit tentang rasa buku pinky ini.

alkisah ada dua orang jatuh cinta dan lama kelamaan mereka cerai, ehh kok bisa ya? ya bisa aja

kalau mereka mengawali rasa cinta mereka dengan hubungan yang enggak pas seperti ‘pacaran’. karena di dalam pacaran terdapat berjuta-juta keburukan , lebay. ya pokoknya banyak mulai dari wanita yang patah hati, stress, bundir (bunuh diri) sampai  halim duluan, dan akhirnya aborsi. kan ngeri dengernya.. nha buat para cewek dan cowok yang udah mulai jatuh cintrong perlu ni baca buku kek ginian.

ingat lho cinta itu baik dan diperbolehkan, Allah juga mengaruniakan itu pada kita. tapi yg perlu diingat cinta yang sebenarnya itu kan nggak harus pacaran sis and bro. boleh-boleh kalau suka tapi plisss di hidden dulu sampai saaatnya ya biar nggak terjadi kayak yang di atas tadi.

kalau buat cowok sih nggak begitu kelihatan akibatnya, mereka cenderung acuh kalo cewek udah kena akibatnya. nha awalan cerita di atas tadi bisa aja terjadi habis jatuh cinta>pacaran>nikah>cerai habisnya mereka hanya mengutamakan pada nafsu sih. padahal jatuh cinta yang sebenarnya itu kan memasrahkan hati mereka pada Allah dan membiarkan masing-masing di antaranya mencintai-Nya dahulu sebelum saling mencintai sesama *wuidih hehe.

intinya bagi yang udah punya cowok/cewek mendingan lebih baik jadi teman biasa aja deh. toh teman itu kan masih bisa bicara, pinjem catatan mata kuliah (bukan alasan lho ya), seru-seruan bareng temen-temen tanpa rasa canggung ya nggak? kalo pacar kan kesana-sini berdua, mau makan, minum, kuliah, belanja, ke kantor polisi eh mksudnya nyari barang-barang yang hilang ya kali aja. terus kalo nggak sms 1 hari behh udah kayak mau di putus  padahal kan aktivitas kita bukan buat si doi aja kan. masih buat Allah, dosen, orang tua, guru, teman, sahabat, tukang jualan (beli makan).

nha setelah ngebaca ini mungkin kalian bisa mengambil manfaat darinya. kalau belum bisa putus hubungi ki joko gendeng hehe bukan maksudnya cari jalan yang baik semoga Allah membantu hamba-hamba yang ingin ke jalan yang benar.

2013-09-03 15.28.51

Langit Biru, Lapangan, Nisan Dan Kuas

Langit di atas masih berwarna jingga gelap bercampur biru. Kala itu aku sedang dalam perjalanan hendak pulang kerumah dari masjid. Aku berjalan sendiri menyusuri lorong-lorong waktu masa lalu. Aku masih ingat ketika itu, sama seperti di saat senja ini. Aku masih bisa merasakan pusaran waktu sekarang membawaku ke masa lalu yang tak bisa dilupakan.

Aku masih ingat ketika aku menatap langit senja setelah aku pulang dari  masjid. Aku merasa tenang di hati, Tuhan telah menganugrahkan semuanya padaku dengan lengkap. Walaupun keluargaku tergolong sederhana aku tetap merasa tercukupi secara ekonomi dan kasih sayang. Orang tuaku hanya pedagang makanan biasa di rumah. Aku masih SMA kala itu.. Semuanya berubah dengan cepat dan tanpa ku sadari. Dulu aku masih sering mengaji ketika di masjid walaupun itu hanya seorang diri, kulakukan karena aku tak bisa melakukan apapun. Hanya do’a yang bisa ku panjatkan kepada-Nya. Di sekolah pun aku merasa ada malaikat yang membuatku tenang ketika menuntut ilmu. Aku jadi tenang sehingga mudah menerima ilmu yang diberikan guru.

Aku juga melihat rumput-rumput di lapangan depan rumahku sudah tinggi-tinggi.di pinggir bagian utara juga sudah ditumbuhi 4 pohon talok. Aku tak bisa lagi melihat langit luas dari depan pintu ketika melihat indahnya sore yang cerah.  Dulu lapangan itu setiap sore digunakan untuk  bermain sepak bola oleh remaja di desaku. Dan aku masih bisa melihat langit luas berwarna biru cerah di atas gunung lawu. Ramai sekali apalagi kalau pas acara agustusan. Ibuku bisa laris warungnya dengan berdagangan es. Ada seorang temanku yang dekat denganku dulu yang juga sering bermain sepak bola di lapangan itu.

Ketika kulihat jalan menuju rumah pun kini baru selesai di aspal lagi. Dulu jalan ini tak separah ini dan masih halus untuk di lewati. Suara kakiku terdengar sangat berisik saat aku menapaki jalan yang baru ini. Aku tersenyum sembari jalan perlahan dengan melihat sekitar.

Dulu aku sering termotivasi dengan arah jalan menuju rumahku. Jalan itu hanya mempunyai satu belokan dan jika aku sudah berbelok kudapati langit tinggi di depan yang luas. Aku sering menganalogikan awan yang berwarna jingga di depan itu adalah cita-citaku. Sedangkan jalan yang kulewati setiap hari adalah jalanku menuju asa itu. Dan batu-batu kecil itu bisa membuatku tersandung apabila aku tak berhati-hati terhadapnya. Walaupun hanya begitu aku cukup terdorong ketika aku tak bersemangat.

Aku rinduu ternyata dengan masa lalu… Jika bisa aku ingin kembali ke sana sejenak lalu  kembali lagi di waktu ini. Aku rindu dengan langit biru dimana aku berangan-angan jauh. Aku rindu saat dia menatapku dan tersenyum dari lapangan sambil hujan-hujanan (kasihan ya, tapi biarin aja biar aku senang hihi). Aku rindu rumput lapangan yang sering kugunakan untuk bermain dengan temanku. Aku rindu… Andai ada alat yang bisa membawa ke masa lalu sejenak.

Aku tahu masa lalu hanya bisa di kenang dan dijadikan tolak ukur perbandingan dengan masa depan. Aku cukup mengerti tentang ini. Tapi.. Masa lalu bisa menjadikan kita lebih rendah hati terhadap apa yang terjadi di masa kini. Kini aku sudah berkuliah di universitas yang bergengsi di indonesia dan nomor 1 di negaraku. Aku sangat bahagia tentunya. Tapi semua ini tak akan mengubah dan melupakan kenangaanime_girl_playing_violin_by_lamienthana-d5rc8apnku di masa lalu.

Ketika sahabatku muslimat meninggal pun aku masih ingat. Aku masih kelas 1 SMA waktu itu, dan aku tak percaya. Namun takdir  memang tidak salah. Ia telah meninggal karena kanker otak yang tidak di sadarinya. Dia selalu mimisan ketika kami masih duduk di bangku SMP. Tapi aku dan sahabatku yang lain mengacuhkannya. Aku menyesal telah menyuekkannya dan menganggap dia anak aneh. Padahal dialah yang berhati besar untuk keluarganya. Dia termasuk sahabat terbaikku diantara sahabat-sahabtku yang lain.

Kemudian waktu itu aku ajak temanku menuju rumahnya dan berziarah ke pemakamannya. Temanku tak sanggup dan tak percaya melihat batu nisan itu atas nama dia. Bahwa di bawah gundukan tanah yang gembur itu ada jasad sahabatku, muslimat. Ayah dan ibu muslimat pun tak kuasa menahan air mata mereka ketika bercerita tentang anak sulungnya. Kami pun semakin sedih dan juga tak tahan menahan buliran air di sudut mata.

Lalu bayangan tentang muslimat hilang berganti dengan gambar cat air dan kertas A3 di depan jendela. Aku sering berlatih melukis di sana.. Menghabiskan waktu luang di depan jendela hanya untuk melukis pohon. Aku suka melukis, apalagi kalau gradasi warna. Meskipun itu lama untukku tapi aku sangat menyukainya dan teliti dalam menyatukan warna yang kontras. Aku  belum bisa melukis sempurna tapi aku ingin berusaha melukis seperti  temanku yang pandai dalam hal menggambar.