Menjadi seorang pengamat

Beberapa hari ini orang-orang di sekitar nampak seperti kehilangan senyuman. menggantinya dengan tawa palsu dan topeng agar terlihat baik-baik saja. Aku sekali lagi, bisa melihat perubahan gerakan garis dan warna wajah mereka. Hidup sebagai seorang pengamat tidak pernah mudah. Jelas, aku tak pernah meminta ini pada Tuhan. Kebiasaan ini aku asah secara tak sengaja sejak duduk di bangku Te-Ka dan berlangsung sampai dewasa. Sehingga seakan-akan kaulah yang bertugas menarik kesimpulan dari peristiwa orang-orang terdekatmu.

Kehidupan selalu tak pernah terlepas dari kasus mencinta-dicinta-mencinta (tiga titik maut). Tatkala semua subyek adalah orang terdekat yang mempercayakan ceritanya kepadaku dan sirat-sirat mata mereka beradu nyata terlihat. Rasa-rasanya aku ingin menghilang seketika, menyaksikan maksud dari sorotan mata yang banyak berbicara. Seseorang pernah mengatakan untuk bersikap acuh, tapi apakah aku di sini hanya untuk bersikap acuh? bagaimana jika aku memang sengaja ditempatkan oleh-Nya untuk menilai, mengambil hikmah bahkan membantu mereka?. Ini teka-teki, lebih susah dari teka-teki angka ibu di rumah.

Beberapa hari kemudian, ku temui lagi seorang yang kuanggap dekat menekuk mukanya hingga layaknya alat musik akordeon. Ketika ada pemantik humor dia mengendurkan kulit wajahnya (senyum palsu) dan kembali mengerutkan garis wajahnya selepas tersenyum. Aku sebal sebenarnya menerka-nerka keadaan orang lain. Tapi, aku yang penasaran segera membuat jalur jalan tikus di kepala dan membuat sebuah gagasan asal. Kadang, ketika seseorang terlihat murung beberapa bagian dirimu pun ikut sedih. Kau ingin tahu apa masalahnya dan mencoba membantu, tapi kau seakan tak punya hak untuk itu.

Hari-hari telah terlewat, banyak cerita bertumpuk, berpacu di kepala untuk di ambil benang merah. Malam ini aku telah mendapat cara yang lebih sehat untuk membantu orang terdekat dalam cerita tiga titik maut. Tanpa sengaja yang mungkin ada campur tangan-Nya. Tapi aku belum menemukan jalan untuk membantu si muka akordeon ini. Semoga ia segera pulih kembali dan gila seperti biasanya. Dan juga di kemudian hari aku bisa sedikit membantunya, setidaknya ia tahu aku menulis ini sedikit lebih juga berusaha untuk memulihkannya.

INFP, Tipe kepribadianku

Beberapa hari yang lalu aku coba tes MBTI sekali lagi, karena sebelumnya pernah berkali-kali coba tapi hasilnya nggak sama terus. Dan yang mengherankan hasilnya Introvert sangat bertolak belakang dengan hasil kemarin, aku ragu tapi setelah diulang dua kali hasilnya tetap sama INFP-T. Lalu, aku membaca membaca diskripsi tentang tipe kepribadian itu daaan hasilnya 85% sama !. Nama lain dari tipe ini adalah si idealis (the idealist) atau si pemimpi (The dreamer) dan populasinya di dunia sekitar 4-5%.

Untuk mengetahui sifat ataupun segala macam tentang INFP secara umum bisa dilihat di situs ini . Selebihnya aku bakal cerita beberapa hal yang aku rasakan sebagai INFP.

Aku, sabila rahmawati seorang INFP.

Seseorang yang membutuhkan keseimbangan dalam hidup. Ya, aku pikir hidup harus seimbang, bahkan aku punya beberapa notes agar hidupku tetap seimbang. Seimbang di sini dalam arti jiwa maupun raga. Baik dari makanan, pikiran, hubungan antar manusia dan Tuhan. Kalo ada salah satu yang nggak beres langsung cari penyebabnya dan berpikir keras biar seimbang lagi. Live in life with harmony~ sabun kaliii.

Seseorang yang nggak enakan sama orang lain ketika minta tolong, perlu pemikiran yang panjaangg nggak ketulungan. Padahal cuma minta tolong buat pinjem printer scan, harus berpikir berulang dan di akhir keputusan ”nggak usah pinjem aja, ntar ngrepotin”. Tapi, bukan berarti nggak pernah minta tolong ya. Adakalanya ngerasa minta tolong sama orang yang bener-bener deket secara spontan tapi untuk minta tolong lagi di periode berikutnya cenderung sungkan. Kalaupun jadi minta tolong diberi jarak waktu tertentu biar orang lain ngerasa nggak kerepotan.

Seseorang yang punya khayalan sejauh planet pluto dan kalau punya intuisi udah sok-sok ngalahin ramalannya ki jokobodo. Tapi beberapa intuisiku untuk seseorang 75% bener sih (haha tuh kan). Makanya nggak jarang kehidupannya dipengaruhi sama khayalan-khayalan nggak jelas. Kadang bisa bingung sendiri sama pikiran yang ada di kepala.

Seseorang yang selalu meletakkan perasaan di atas segalanya. Ini ruwet banget aslik !. Kalo buat pertimbangan susah untuk berpikir logis (berusaha menjadi obyektif dan logis). Kalo pilih ini takut salah, itu takut diri sendiri nggak bahagia, gini terus sampe capek sendiri dan akhirnya memutuskan sebuah keputusan yang dianggap ‘tega’. Beberapa temen bilang itu nggak salah, tapi diri ini bilang ”itu nggak manusiawi, bil” kan bingung -_- (besok harus cari pasangan yang logis).

Seseorang yang bisa mendengarkan pendapat orang lain tanpa membuka mulut tanda pengen ngomong. Apalagi kalo ada temen tiba-tiba ke kosan curhat, sambil merem juga tetep bisa dengerin curhatannya (habis itu kebablasan tidur hehe). Ketika seseorang benar-benar datang untuk ngobrol secara intim bakal seneng banget karena ngerasa dipercaya buat nyimpen rahasianya. Sebenernya nggak suka banget sama orang yang curhat kemana-mana pun di ruang terbuka (diri ini di kesampingkan, ceilah) dan aku jadi orang kesekian yang dicurhati. Kalo udah gitu masa bodo, anggap aja itu angin lalu lha katanya curhat jangan bilang siapa-siapa kok malah sebar aib diri.

Seseorang yang menggunakan kode-kode rahasia melalui bahasa perumpamaan dan puisi (ada yang tahu nggak kodenya buat siapa haha). Ini jelas bisa langsung tepat sasaran kalo yang dikode nyambung tapi kalo nggak yaaa sia-sia sih tapi, nggak apa-apa yang penting maksudnya udah tersampaikan.

Seseorang yang kata temen kreatif dan nggak bisa diem kalo di ruang privatnya. Pernah dimarahin ibu cuma buat makan karena terlalu asik sama kuas dan cat air pas jaman SMA. Harus seproduktif mungkin, cari-cari ide buat ini-itu yang nggak terpikirkan orang lain, bahkan kalo bisa dari sepatu-baju pengen buat sendiri alias handmade hahaha maksa sih. Suka banget sama hal-hal yang berhubungan sama kreatif desain, hal lain berbau handmade, etnik dan bernilai seni.

Seseorang yang menyukai tulisan untuk menyampaikan perasaan atau hal yang dipikirkan dari pada harus bilang langsung (ceilahh bil bil, melow amat). Malu lah! pake text note ajalah gampang, nggak usah pasang muka kikuk. Kalo kikuk kan takut salah omong. Walaupun gitu pernah kok berani ngomong sesuatu yang ‘nendang’ tapi nggak berani lihat mata lawan bicaranya secara langsung. Malu woiii atau takut lawan bicaranya marah dsb (yah you know lah, sangat berperasaan).

Seseorang yang sering dibilang aneh sama temen-temen -_-. Nyaman dan nyambung sama orang-orang yang diangap aneh sama orang lain. Bahkan malah tertarik sama orang yang dianggap aneh itu. Mereka cenderung punya pemikiran luas dan berani. Tapi ya, obrolan dengan orang-orang seperti itu cukup menguras tenaga kadang (ini seriusan, aku capek kalo selesai ngobrol sama orang-orang itu).

Terakhir, seorang INFP ternyata juga cukup fleksible dan suka bersosialiasi lho. Jadi anggapan kalo introvert itu selalu menyendiri adalah salah. Bahkan kadang aku menemukan diriku sendiri cukup rame di dalam grup atau sebuah diskusi. Tapi tetep yang paling ku suka adalah mengamati orang-orang dan memahaminya secara mendalam. Walaupun kadang dibilang pendiam dan perenung (merenungi nasib juga sih dikit hehehe).

Ya begitulah beberapa penjelasan tentang tipe INFP. Kalo tipe kamu apa? siapa tahu kita samaan 😉

 

 

 

 

Facing life before a quarter life

Tahun ini adalah angka yang ke-23 untuk perjalan hidupku sejak lahir. Sudah sarjana, tapi seolah tak bermodal apa-apa. ironis. penerima beasiswa negara, mana suaranya?. Perlahan aku mencoba mengurai  pikiranku yang telah berlalu beberapa bulan belakangan ini. Ada segudang gundah yang menghantui ketika mata akan terpejam., ketika badan mulai di rebahkan yang tak jarang bunyi tulang berkelotekan. Banyak, bahkan terlalu banyaknya hingga tak sanggup mengungkapkan melalui aliran suara kepada-Nya. Sholat malam sudah dilakukan sebisa mungkin dengan niatnya, tapi tak kunjung jua jawabannya. Remang-remang mimpi yang telah didapat.

Rasanya memang sudah bergantung pada sebuah dahan, tapi dahan itu rasanya belum cukup kuat untuk ditopang.  Kata mereka, jalani saja dulu. mungkin itu jalan takdirnya. aku, diam. Angan-angan untuk langsung beraksi di kancah korporasi memang tak mudah. Beragam hal sudah dilalui, panjangnya bait-bait doa telah diucapkan, usaha jelas telah menuai banyak aral, dan prosesnya sama, menunggu. hingga berbulan-bulan dan itu perlahan pudar.

Keadaan hati yang turut serta dalam carut marut pilihan pekerjaan menjadi bumbu yang sedap mantap. Saat pasangan-pasangan di sekitar mulai berguguran  dan kandas. disamping tak sedikitpun lainnya yang menjadi dua dan mengikat asa bersama. secepat itukah? halo, ada seseorang di sini yang masih kebingungan. sementara itu, bisakah aku dan ia menjadi kita? dalam kata dan doa. jika ruang adalah perantara untuk rindu maka apakah harapan itu masih nyata adanya?. Terlalu banyak semoga pada kebisuan ini, semoga menjadi realita.

Dorongan, kabar ini itu dari keluarga jelas telah didapat sebelumnya. banyak kabar bahagia yang berujung membuat diri semakin bertanya. kapan?                             mungkin semua akan terjawab dengan hitungan minggu, bulan atau tahun. mungkin belum bisa dijawab sekarang. Yang ku tahu, doa dan sabar tak pernah menghasilkan keburukan.

Semakin larut keadaan hati dan pikiran berjalan lambat menaiki titik eksponensial, untung saja imajinasi segera membawa ke alam mimpi. Membawa diri menjauh pada sidang terbuka di kepala dan tokoh-tokok fiksi lain yang mengisi forum perbincangan. Termasuk dia, dia dan dia.

 

 

 

Langit Biru, Lapangan, Nisan Dan Kuas

kebunkini kau telah pergi ke dunia yang tenang kawan via http://fppi.fkip.unila.ac.id/2014/10/

Langit di atas masih berwarna jingga gelap bercampur biru. Kala itu aku sedang dalam perjalanan hendak pulang kerumah dari masjid. Aku berjalan sendiri menyusuri lorong-lorong waktu masa lalu. Aku masih ingat ketika itu, sama seperti di saat senja ini. Aku masih bisa merasakan pusaran waktu sekarang membawaku ke masa lalu yang tak bisa dilupakan.

Aku masih ingat ketika aku menatap langit senja setelah aku pulang dari  masjid. Aku merasa tenang di hati, Tuhan telah menganugrahkan semuanya padaku dengan lengkap. Walaupun keluargaku tergolong sederhana aku tetap merasa tercukupi secara ekonomi dan kasih sayang. Orang tuaku hanya pedagang makanan biasa di rumah. Aku masih SMA kala itu.. Semuanya berubah dengan cepat dan tanpa ku sadari. Dulu aku masih sering mengaji ketika di masjid walaupun itu hanya seorang diri, kulakukan karena aku tak bisa melakukan apapun. Hanya do’a yang bisa ku panjatkan kepada-Nya. Di sekolah pun aku merasa ada malaikat yang membuatku tenang ketika menuntut ilmu. Aku jadi tenang sehingga mudah menerima ilmu yang diberikan guru.

Aku juga melihat rumput-rumput di lapangan depan rumahku sudah tinggi-tinggi.di pinggir bagian utara juga sudah ditumbuhi 4 pohon talok. Aku tak bisa lagi melihat langit luas dari depan pintu ketika melihat indahnya sore yang cerah.  Dulu lapangan itu setiap sore digunakan untuk  bermain sepak bola oleh remaja di desaku. Dan aku masih bisa melihat langit luas berwarna biru cerah di atas gunung lawu. Ramai sekali apalagi kalau pas acara agustusan. Ibuku bisa laris warungnya dengan berdagangan es. Ada seorang temanku yang dekat denganku dulu yang juga sering bermain sepak bola di lapangan itu.

Ketika kulihat jalan menuju rumah pun kini baru selesai di aspal lagi. Dulu jalan ini tak separah ini dan masih halus untuk di lewati. Suara kakiku terdengar sangat berisik saat aku menapaki jalan yang baru ini. Aku tersenyum sembari jalan perlahan dengan melihat sekitar.

Dulu aku sering termotivasi dengan arah jalan menuju rumahku. Jalan itu hanya mempunyai satu belokan dan jika aku sudah berbelok kudapati langit tinggi di depan yang luas. Aku sering menganalogikan awan yang berwarna jingga di depan itu adalah cita-citaku. Sedangkan jalan yang kulewati setiap hari adalah jalanku menuju asa itu. Dan batu-batu kecil itu bisa membuatku tersandung apabila aku tak berhati-hati terhadapnya. Walaupun hanya begitu aku cukup terdorong ketika aku tak bersemangat.

Aku rinduu ternyata dengan masa lalu… Jika bisa aku ingin kembali ke sana sejenak lalu  kembali lagi di waktu ini. Aku rindu dengan langit biru dimana aku berangan-angan jauh. Aku rindu saat dia menatapku dan tersenyum dari lapangan sambil hujan-hujanan (kasihan ya, tapi biarin aja biar aku senang hihi). Aku rindu rumput lapangan yang sering kugunakan untuk bermain dengan temanku. Aku rindu… Andai ada alat yang bisa membawa ke masa lalu sejenak.

Aku tahu masa lalu hanya bisa di kenang dan dijadikan tolak ukur perbandingan dengan masa depan. Aku cukup mengerti tentang ini. Tapi.. Masa lalu bisa menjadikan kita lebih rendah hati terhadap apa yang terjadi di masa kini. Kini aku sudah berkuliah di universitas yang bergengsi di indonesia dan nomor 1 di negaraku. Aku sangat bahagia tentunya. Tapi semua ini tak akan mengubah dan melupakan kenanganku di masa lalu.

Ketika sahabatku muslimat meninggal pun aku masih ingat. Aku masih kelas 1 SMA waktu itu, dan aku tak percaya. Namun takdir  memang tidak salah. Ia telah meninggal karena kanker otak yang tidak di sadarinya. Dia selalu mimisan ketika kami masih duduk di bangku SMP. Tapi aku dan sahabatku yang lain mengacuhkannya. Aku menyesal telah menyuekkannya dan menganggap dia anak aneh. Padahal dialah yang berhati besar untuk keluarganya. Dia termasuk sahabat terbaikku diantara sahabat-sahabtku yang lain.

Kemudian waktu itu aku ajak temanku menuju rumahnya dan berziarah ke pemakamannya. Temanku tak sanggup dan tak percaya melihat batu nisan itu atas nama dia. Bahwa di bawah gundukan tanah yang gembur itu ada jasad sahabatku, muslimat. Ayah dan ibu muslimat pun tak kuasa menahan air mata mereka ketika bercerita tentang anak sulungnya. Kami pun semakin sedih dan juga tak tahan menahan buliran air di sudut mata.

Lalu bayangan tentang muslimat hilang berganti dengan gambar cat air dan kertas A3 di depan jendela. Aku sering berlatih melukis di sana.. Menghabiskan waktu luang di depan jendela hanya untuk melukis pohon. Aku suka melukis, apalagi kalau gradasi warna. Meskipun itu lama untukku tapi aku sangat menyukainya dan teliti dalam menyatukan warna yang kontras. Aku  belum bisa melukis sempurna tapi aku ingin berusaha melukis seperti  temanku yang pandai dalam hal menggambar.

Gadis T

Hallo.. Maaf setelah sekian lama melupakan blog ini dan membuatnya berjamur wkwk *lebay*

Kali ini ada suatu cerita kecil yang mungkin bisa menjadi insiprasi kepada teman-teman yang membaca ini. Cerita  tentang seorang gadis kelahiran temanggung yang tinggal di jambi. Sebut saja mawar *ehh* si T maksudnya. Seorang gadis yang kuat pendiriannya, mandiri, cerdas, dan pendiam. Oke, cukup penasaran dengan gadis ini bukan? Mari kita simak sekelumit potongan kisah tentang gadis ini.

Suatu malam aku sedang berjalan sendiri ketika hendak pulang membeli makan. Menyusuri jalanan bising dan bau asap oleh kendaraan yang lalu lalang. Dari jauh,  arah yang berlawanan dariku, ter lihat sosok gadis berkerudung ungu tua  membawa keresek dan menggendong tas ransel warna hitam. Mukanya terlihat cukup lelah yang ditandai dengan kepalanya menunduk ke arah tanah. Namun, begitu raut wajahnya masih terlihat cukup anggun bagi seorang yang sudah letih. Dari arah jauh aku sudah memasang wajah ingin menyapanya, lalu dia rupanya mengerti bahwa aku dari arah yang berlawanan. Kami lalu saling bersapa senyuman lalu berjalan masing-masing lagi. Yah. Hanya itu, hanya itu yang terjadi malam itu dan aku sudah bisa mendiskripsikan tentangnya.

Aku teringat satu setengah tahun yang lalu, ketika kami masih semester awal dan jadwal kegiatan kami belum sepadat ini. Sangat ingat, ketika kami saling bertukar ilmu sampai menginap di kosnya, dan berjalan bersama dengan rasa persahabatan yang sangat menyenangkan. Seketika berpapasan dengannya seakan aku tersengat listrik, bagaimana tidak?

hijab

“Dia cukup kukuh memegang prinsipnya, sederhana, dan pendiam. Dia memutuskan untuk benar-benar menuntut ilmu di kota ini dengan prinsip yang diakuinya. Meskipun banyak sekali pria yang mencoba mendekatinya namun ia tetap tak goyah, tak termakan omongan. Dari pria baik-baik sampai yang hanya iseng menggodanya”.

Sungguh, aku benar-benar salut dengannya. Menurutnya kesendirian itu adalah saat yang bebas, kau tak perlu ragu untuk melakukan hal apapun, mengkhawatirkan seseorang, buang-buang uang untuk makan ini dan itu, dan menyiapkan hati untuk di sakiti. Dengan kesendiriannya dia bahagia, bahkan dia dapat membuktikan bahwa semua tetap baik-baik saja dan berjalan sangat indah. Sifat kesehariannya pun sederhana, walaupun mungkin keluarganya terihat mampu. Dia pernah suatu waktu bercerita, bahwa uang jajannya ia sisihkan untuk ditabung dan makan secukupnya.

Apalagi  yan kurang dengan konsep dirinya? Ah, aku rasa semuanya cukup menjadikan kita dewasa dan bijak terhadap masa depan yang akan datang. Untuk tambahan lagi, sekarang dia cukup sibuk dengan perannya sebagai asisten 3 lab. Belum lagi ditambah tugas, laporan, dan jarkoman untuk kami teman seprodinya. Dia pun masih menggeluti bisnis jual pulsanya, ah ya rapat kkn yang dilakukan setiap minggu juga bahkan mengurangi waktunya untuk istirahat dan belajar. Tapi apa? Dia bisa mempertahankan IP sempurna selam 3 semester berturt-turut. Kau tahu, apa yang dia pikirkan saat semester pertama? Dia berpikir,  mengapa aku tak pernah punya teman? Apakah karena sifat yang pendiam menjadikan introvert sejati? Bagaimana kehidupanku berjalan nantinya? Tapi kini?

Dia dapat mengatasi semua gundah yang ada, menjadi asisten dan aktif bertanya serta berkomunikasi dengan semua orang menjadikannya lebih terbuka. Apa yang dia cemaskan kandas sudah, dia bisa. Ya.

tumblr_lf8niyyhUT1qafc06o1_500_large-750x501

Aku memang bukan teman dekatnya, hanya teman sepermainan saja. Namun, entah mengapa sangat bahagia ketika mengenal gadis sebaik dia yang mempunyai prinsip begitu kuatnya. Aku bahagia karena orang-orang baik masih ada di sekelilingku. Masih menjadi cerminan akan tingkahku yang buruk. Dia juga gadis yang taat beragama namun tidak tunjukkan dengan hal yang berlebihan, bijaksana menaggapi masalah yang ketika aku hadapi harus kutangani dengan kaku. Terimakasih temanku, hanya dengan berpapasan aku menjadi semangat kembali.

NB: ijinkan temanmu ini menuliskan sepotong kisah tentangmu

PPMBR #2

kemarin tepatnya tanggal 14 juli saya berangkat ke madura untuk melaksanakan program pengabdian. program ini di dirikan oleh 5 fakultas yang ada di universitas gadjah mada. yakni fakultas teknik, geografi, pertanian, peternakan dan satu sekolah vokasi.

acara ini berlangsung hingga tanggal 18 juli 2014. di sana bertepatan dengan pelaksanaan KKN-PPM UGM, sehingga pada hari pertama kami melakukan perkenalan dengan TIM KKN. program yang di angkat antara lain inventarisasi buku, vertikultur dan pembuatan pakan fermentasi. inventarisasi buku dilakukan oleh mahasiswa dari sekolah vokasi dan dibantu oleh sub bidang yang lain. buku-buku yang di bawa dari yogya sekitar 100 buku yang di angkut ke dalam 3 kardus.

selanjutnya, dari PPM pertanian mengadakan vertikultur. yakni penanaman tanaman hortikultura dengan menggunakan limbah plastik botol. vertikultur ini dilakukan dengan memotong seperempat bagian dari botol yang selanjutnya di tanami benih sayur. sayuran yang kami pilih adalah kangkung, selada dan sawi. hal ini dikarenakan komoditas sayuran di daerah pangpajung, madura masih tergolong mahal sehingga masyarakat diinginkan agar lebih hemat dan mandiri.

terakhir adalah pembuatan pakan fermentasi. pakan ini di buat untuk hewan ternak khususnya sapi. bahan-bahan yang di gunakan seperti pohon pisang, jerami, EM4, molase dan dedak. pohon pisang di cacah agar lebih kecil ukurannya. caranya dengan mencampurkan molase dan EM4 yang berisi bakteri. setelah itu larutan tersebut di tuangakan ke dalam campuran dedak, cacahan pohon pisang dan jerami. laangkah tersebut dilakukan berulang hingga isi tong penuh. adanya pakan fermentasi ini dimaksudkan agar dapat menjadi persediaan pakan di musim kemarau ketika tidak ada rumput. proses fermentasi ini berlangsung selama 3 hari.

oke.. cukup sekian catatan singkatku selama di madura. selamat membaca cerita selanjutnya ya kawan 🙂

Cerita Kemarin Siang

Kadang seseorang itu tidak pernah tahu apa yang kita lakukan. Kita sudah benar-benar jujur, berniat lurus, berusaha berhati-hati dan tulus melakukan dari hati. Tapi mereka masih tak peduli dengan sikap kita seperti itu. kadang mereka hanya diam, tidak mau menjelaskan dan membuat kita bingung. Sampai tidak tahu apa salah diri kita sendiri. Mereka membiarkan kita mencari sendiri jawaban itu. bahkan jika mereka lebih tega lagi, membiarkan jawaban itu kita cari selama bertahun-tahun. Terhambat oleh waktu.

Kadang mereka telah pergi dan tidak ingin mengenal kita lagi tanpa kita tahu apa salah kita. apa mereka tahu bahwa kita benar-benar jujur, tulus, dan berniat lurus sebenar-benarnya? Kita sudah berusaha tampil sebaik-baiknya. Menyembunyikan hal terberat yang kita alami demi mereka agar mereka mau menerima kita dengan baik. memang, ada mereka yang tidak mau tahu apapun itu, apapun yang terjadi pada hidup kita. karena mereka bukan siapa-siapa kita. tapi, sebagmenyesalai orang yang berelasi dengan kita. apakah mereka tidak mau peduli akan hal ini?

Apalagi jika itu hanya kesalahpahaman. Apakah mereka membiarkan kita selalu di kejar kesalahan yang tidak kita ketahui sendiri apa itu? kita hanya takut jika mereka tidak akan menerima kita selamanya. Kita mencoba menghindar jika itu buruk bagi kita. tapi, bukankah waktu selalu adil? Kadang dia menemukan kita dengan mereka yang bersikap seperti itu.

Sampai kapan harus seperti ini? Rasanya jelas tidak enak jika merasa bersalah tanpa tahu kesalahan itu apa. Apa kita yang tidak mengerti  atau bagaimana? Kenapa mereka tidak tahu sedikitpun usaha kita? aku hanya berharap pada Tuhan agar menunjukkan hal yang sebenarnya pada kami. Dan hanya Tuhan yang tahu dan Maha adil. Sungguh kita tidak boleh berlaku sombong, karena kita hanya makhluk lemah dan dengan di beri akal saja kita menjadi mulia. Jika kita tidak menggunakan akal dengan baik bukankah kita kurang mulia?