Titik-titik bahagia

Minggu kemarin rasanya belum lama terlewati, ketika hujan rintik yang reda menyadarkan tentang suatu rasa. Tepat dua minggu aku menjadi ‘pemain tunggal’ di laboratorium. Dua kawanku sudah Mel ngang bersama mimpinya. Dua minggu pun, aku baru mulai serius memegang kendali tanggung jawab. 

Aku terus membujuk diri untuk menyadari akan ada hasil bahagia setelah ini. Meski kadang hati lebih sulit dilumpuhkan dari pada kepala. 

Lalu, di salah satu sore setelah hujan. Aku mendapati kawan seperjuangan kuliah dengan muka berseri sedang menunggu di warung. Kuadakan sapaan kecil dan ia balik menyaut. Ternyata, usaha makanan jepangnya telah ludes terjual hari itu. Pantas mukanya sumringah. Aku tersenyum kecil dan melanjutkan jalan menuju kosan. 

Selang dua hari berikutnya, di pagi hari tepatnya. Tak sengaja berpapasan dengan teman dekat yang lama tak bertemu dan tak berkabar ria. Dia membonceng temannya, berhelm hitam full face dan berjaket hitam, seperti biasanya. Entah, sekonyong-konyong aku melepas senyum dan mengarahkan mata ke spion kanannya. Kupikir dia pun tahu. Apa daya, sepanjang jalan menuju kampus aku tak sadar jika masih senyum-senyum sendiri. Memalukan? Biarkan. 

Mendapati rindu yang ada di depanmu bukankah itu membahagiakan ? 

Ada lagi, seorang sahabat ingin melepas penat seusai bekerja di site tambang. Kini ia bercerita tentang betapa beratnya hidup di sana. Mengurai kisahnya dari masalah pekerjaan sampai rumitnya keadaan hati. “Hidup tidak boleh hanya bertahan saja, tapi butuh perjuangan” kata-kata yang sering diucapkannya. Di luar semua keluhannya, ia merasa bersyukur atas hal yang didapatkannya. Dan yang terpenting adalah, ia akan kembali bertemu keluarga. Membawa sederet cerita rutinitas gelar anak tambang, obrolan hati dan kembali sejenak mengulik dapur seperti sebelumnya. 

Jika kamu sulit melihat ‘dimana bagian bahagianya?’ Coba tanyakan pada hatimu. 

Advertisements

The way i interact with extrovert

“They said we have social anxiety disorder, quite hard to talk each other and often alone”. 

BUT, that’s wrong. Not always. 

We might seem like quite people around crowded situasions, talking with our selves more often, spent more time in front of laptop screen, and maybe our attitude like an arogan. Just don’t judge books by its cover guys. 

I have many friends who look like they happier than me. Buzzing around with their words in the air, attacking me by thousands words coming out from theirs and asking me like i have no choice to decide it. 

But, that’s world right? I definitly thankful to God about this. There’re many diverse kind of people. 

Here’s the way i interact with the one who names as extrovert (no stereotype, kindly check Myer-Briggs MBTI assesment) : 

1. Because i have a private time as an introvert. I can talk as much as extrovert did but I need to be relax for a while after attending a crowded situasions such in office, or big gathering. But sometimes, i just can keep in mouth when their speech is not interesting me indeed, become poison for my mind (as negative effect). In case, i just saving my energi for the things that is worth. 

2. In big online group when its dominated by a chit-chat. Believe me, keep in silent is the best things ever. You may to answer their comments and statement that you interest. But, always beware, sometimes they appoint you hapzhardly. Beware of your sentence.

3. The ‘chit-chat one’ (extrovert) can be a good friend (have a big talk) if like that it’s time panning a lot of knowledge from them. If not, just keep silent to give a peace among both of you. Let your thought bouncing in brain until you release in a piece of paper or canvas of art. 

4. Charging the battery when me time or have a big talk with others by texting. It really helps the breath.. fiuhh

Well, that’s my tips for the silent one :). Might have a nice day and hopefully it useful for you ! 

Regards from the intronet one. See ya  ! 

​Sedang dalam perjalanan

Banyak hal yang terjadi dan mulai dicerna satu demi satu setelah memasuki umur 20an. Memasuki fase dewasa awal kata mereka. Antara labil dan akan tidak labil lagi. Mulai bisa menimbang dan menahan emosi.
Mungkin banyak hal yang terjadi sampai saat ini dan kamu tidak pernah tau alasannya apa. Untukmu para pencari makna. Aku juga, kita sama. Jurusan kuliah yang awalnya tidak ingin kamu ambil, sekarang tamat juga. Tema tugas akhir yang dirasa jauh dari ekspektasi dilahap pula. Demi berusaha membuat mereka berdua bangga.

Dihadapkan pada beberapa pilihan retorik di kehidupan. Kamu memilih santai saja dengan dunia zona nyaman. Apakah lelah untuk berjuang atau memang terlalu nyaman ?

Jika kamu sedang berusaha menyeimbangkan kedua lenganmu, sama. Aku juga iya.

Lalu apa ?

Sesuatu tidak terjadi padamu secara percuma. Jika kamu merasa hidupmu  tak ada progres, lambat bahkan berhenti. Aku masih sama denganmu. Bangun pagi-tidur larut-bangun lagi. Hari selalu terasa cepat dan di akhir minggu terasa penat walaupun tanpa kerja yang giat.

Tapi, pernahkah kamu merasakan lambatnya laju kereta jika sedang di dalamnya? Bukankah ia terlihat sangat cepat jika kamu melihatnya dari luar. Proses selalu terasa lambat untukmu yang menjalaninya. Untuk mereka yang tidak, tak peduli. Tiba-tiba sudah selesai saja dengan keperluanmu. Dan jika kereta membawamu pada suatu tujuan, maka pastilah proses yang sedang kamu jalani akan berujung. Sejauh apapun perjalanan itu akan ada tujuan.

Percayalah, Tuhan menciptakan awal dan akhir untuk apapun itu. 

Menjadi seorang pengamat

Beberapa hari ini orang-orang di sekitar nampak seperti kehilangan senyuman. menggantinya dengan tawa palsu dan topeng agar terlihat baik-baik saja. Aku sekali lagi, bisa melihat perubahan gerakan garis dan warna wajah mereka. Hidup sebagai seorang pengamat tidak pernah mudah. Jelas, aku tak pernah meminta ini pada Tuhan. Kebiasaan ini aku asah secara tak sengaja sejak duduk di bangku Te-Ka dan berlangsung sampai dewasa. Sehingga seakan-akan kaulah yang bertugas menarik kesimpulan dari peristiwa orang-orang terdekatmu.

Kehidupan selalu tak pernah terlepas dari kasus mencinta-dicinta-mencinta (tiga titik maut). Tatkala semua subyek adalah orang terdekat yang mempercayakan ceritanya kepadaku dan sirat-sirat mata mereka beradu nyata terlihat. Rasa-rasanya aku ingin menghilang seketika, menyaksikan maksud dari sorotan mata yang banyak berbicara. Seseorang pernah mengatakan untuk bersikap acuh, tapi apakah aku di sini hanya untuk bersikap acuh? bagaimana jika aku memang sengaja ditempatkan oleh-Nya untuk menilai, mengambil hikmah bahkan membantu mereka?. Ini teka-teki, lebih susah dari teka-teki angka ibu di rumah.

Beberapa hari kemudian, ku temui lagi seorang yang kuanggap dekat menekuk mukanya hingga layaknya alat musik akordeon. Ketika ada pemantik humor dia mengendurkan kulit wajahnya (senyum palsu) dan kembali mengerutkan garis wajahnya selepas tersenyum. Aku sebal sebenarnya menerka-nerka keadaan orang lain. Tapi, aku yang penasaran segera membuat jalur jalan tikus di kepala dan membuat sebuah gagasan asal. Kadang, ketika seseorang terlihat murung beberapa bagian dirimu pun ikut sedih. Kau ingin tahu apa masalahnya dan mencoba membantu, tapi kau seakan tak punya hak untuk itu.

Hari-hari telah terlewat, banyak cerita bertumpuk, berpacu di kepala untuk di ambil benang merah. Malam ini aku telah mendapat cara yang lebih sehat untuk membantu orang terdekat dalam cerita tiga titik maut. Tanpa sengaja yang mungkin ada campur tangan-Nya. Tapi aku belum menemukan jalan untuk membantu si muka akordeon ini. Semoga ia segera pulih kembali dan gila seperti biasanya. Dan juga di kemudian hari aku bisa sedikit membantunya, setidaknya ia tahu aku menulis ini sedikit lebih juga berusaha untuk memulihkannya.

INFP, Tipe kepribadianku

Beberapa hari yang lalu aku coba tes MBTI sekali lagi, karena sebelumnya pernah berkali-kali coba tapi hasilnya nggak sama terus. Dan yang mengherankan hasilnya Introvert sangat bertolak belakang dengan hasil kemarin, aku ragu tapi setelah diulang dua kali hasilnya tetap sama INFP-T. Lalu, aku membaca membaca diskripsi tentang tipe kepribadian itu daaan hasilnya 85% sama !. Nama lain dari tipe ini adalah si idealis (the idealist) atau si pemimpi (The dreamer) dan populasinya di dunia sekitar 4-5%.

Untuk mengetahui sifat ataupun segala macam tentang INFP secara umum bisa dilihat di situs ini . Selebihnya aku bakal cerita beberapa hal yang aku rasakan sebagai INFP.

Aku, sabila rahmawati seorang INFP.

Seseorang yang membutuhkan keseimbangan dalam hidup. Ya, aku pikir hidup harus seimbang, bahkan aku punya beberapa notes agar hidupku tetap seimbang. Seimbang di sini dalam arti jiwa maupun raga. Baik dari makanan, pikiran, hubungan antar manusia dan Tuhan. Kalo ada salah satu yang nggak beres langsung cari penyebabnya dan berpikir keras biar seimbang lagi. Live in life with harmony~ sabun kaliii.

Seseorang yang nggak enakan sama orang lain ketika minta tolong, perlu pemikiran yang panjaangg nggak ketulungan. Padahal cuma minta tolong buat pinjem printer scan, harus berpikir berulang dan di akhir keputusan ”nggak usah pinjem aja, ntar ngrepotin”. Tapi, bukan berarti nggak pernah minta tolong ya. Adakalanya ngerasa minta tolong sama orang yang bener-bener deket secara spontan tapi untuk minta tolong lagi di periode berikutnya cenderung sungkan. Kalaupun jadi minta tolong diberi jarak waktu tertentu biar orang lain ngerasa nggak kerepotan.

Seseorang yang punya khayalan sejauh planet pluto dan kalau punya intuisi udah sok-sok ngalahin ramalannya ki jokobodo. Tapi beberapa intuisiku untuk seseorang 75% bener sih (haha tuh kan). Makanya nggak jarang kehidupannya dipengaruhi sama khayalan-khayalan nggak jelas. Kadang bisa bingung sendiri sama pikiran yang ada di kepala.

Seseorang yang selalu meletakkan perasaan di atas segalanya. Ini ruwet banget aslik !. Kalo buat pertimbangan susah untuk berpikir logis (berusaha menjadi obyektif dan logis). Kalo pilih ini takut salah, itu takut diri sendiri nggak bahagia, gini terus sampe capek sendiri dan akhirnya memutuskan sebuah keputusan yang dianggap ‘tega’. Beberapa temen bilang itu nggak salah, tapi diri ini bilang ”itu nggak manusiawi, bil” kan bingung -_- (besok harus cari pasangan yang logis).

Seseorang yang bisa mendengarkan pendapat orang lain tanpa membuka mulut tanda pengen ngomong. Apalagi kalo ada temen tiba-tiba ke kosan curhat, sambil merem juga tetep bisa dengerin curhatannya (habis itu kebablasan tidur hehe). Ketika seseorang benar-benar datang untuk ngobrol secara intim bakal seneng banget karena ngerasa dipercaya buat nyimpen rahasianya. Sebenernya nggak suka banget sama orang yang curhat kemana-mana pun di ruang terbuka (diri ini di kesampingkan, ceilah) dan aku jadi orang kesekian yang dicurhati. Kalo udah gitu masa bodo, anggap aja itu angin lalu lha katanya curhat jangan bilang siapa-siapa kok malah sebar aib diri.

Seseorang yang menggunakan kode-kode rahasia melalui bahasa perumpamaan dan puisi (ada yang tahu nggak kodenya buat siapa haha). Ini jelas bisa langsung tepat sasaran kalo yang dikode nyambung tapi kalo nggak yaaa sia-sia sih tapi, nggak apa-apa yang penting maksudnya udah tersampaikan.

Seseorang yang kata temen kreatif dan nggak bisa diem kalo di ruang privatnya. Pernah dimarahin ibu cuma buat makan karena terlalu asik sama kuas dan cat air pas jaman SMA. Harus seproduktif mungkin, cari-cari ide buat ini-itu yang nggak terpikirkan orang lain, bahkan kalo bisa dari sepatu-baju pengen buat sendiri alias handmade hahaha maksa sih. Suka banget sama hal-hal yang berhubungan sama kreatif desain, hal lain berbau handmade, etnik dan bernilai seni.

Seseorang yang menyukai tulisan untuk menyampaikan perasaan atau hal yang dipikirkan dari pada harus bilang langsung (ceilahh bil bil, melow amat). Malu lah! pake text note ajalah gampang, nggak usah pasang muka kikuk. Kalo kikuk kan takut salah omong. Walaupun gitu pernah kok berani ngomong sesuatu yang ‘nendang’ tapi nggak berani lihat mata lawan bicaranya secara langsung. Malu woiii atau takut lawan bicaranya marah dsb (yah you know lah, sangat berperasaan).

Seseorang yang sering dibilang aneh sama temen-temen -_-. Nyaman dan nyambung sama orang-orang yang diangap aneh sama orang lain. Bahkan malah tertarik sama orang yang dianggap aneh itu. Mereka cenderung punya pemikiran luas dan berani. Tapi ya, obrolan dengan orang-orang seperti itu cukup menguras tenaga kadang (ini seriusan, aku capek kalo selesai ngobrol sama orang-orang itu).

Terakhir, seorang INFP ternyata juga cukup fleksible dan suka bersosialiasi lho. Jadi anggapan kalo introvert itu selalu menyendiri adalah salah. Bahkan kadang aku menemukan diriku sendiri cukup rame di dalam grup atau sebuah diskusi. Tapi tetep yang paling ku suka adalah mengamati orang-orang dan memahaminya secara mendalam. Walaupun kadang dibilang pendiam dan perenung (merenungi nasib juga sih dikit hehehe).

Ya begitulah beberapa penjelasan tentang tipe INFP. Kalo tipe kamu apa? siapa tahu kita samaan 😉

 

 

 

 

Facing life before a quarter life

Tahun ini adalah angka yang ke-23 untuk perjalan hidupku sejak lahir. Sudah sarjana, tapi seolah tak bermodal apa-apa. ironis. penerima beasiswa negara, mana suaranya?. Perlahan aku mencoba mengurai  pikiranku yang telah berlalu beberapa bulan belakangan ini. Ada segudang gundah yang menghantui ketika mata akan terpejam., ketika badan mulai di rebahkan yang tak jarang bunyi tulang berkelotekan. Banyak, bahkan terlalu banyaknya hingga tak sanggup mengungkapkan melalui aliran suara kepada-Nya. Sholat malam sudah dilakukan sebisa mungkin dengan niatnya, tapi tak kunjung jua jawabannya. Remang-remang mimpi yang telah didapat.

Rasanya memang sudah bergantung pada sebuah dahan, tapi dahan itu rasanya belum cukup kuat untuk ditopang.  Kata mereka, jalani saja dulu. mungkin itu jalan takdirnya. aku, diam. Angan-angan untuk langsung beraksi di kancah korporasi memang tak mudah. Beragam hal sudah dilalui, panjangnya bait-bait doa telah diucapkan, usaha jelas telah menuai banyak aral, dan prosesnya sama, menunggu. hingga berbulan-bulan dan itu perlahan pudar.

Keadaan hati yang turut serta dalam carut marut pilihan pekerjaan menjadi bumbu yang sedap mantap. Saat pasangan-pasangan di sekitar mulai berguguran  dan kandas. disamping tak sedikitpun lainnya yang menjadi dua dan mengikat asa bersama. secepat itukah? halo, ada seseorang di sini yang masih kebingungan. sementara itu, bisakah aku dan ia menjadi kita? dalam kata dan doa. jika ruang adalah perantara untuk rindu maka apakah harapan itu masih nyata adanya?. Terlalu banyak semoga pada kebisuan ini, semoga menjadi realita.

Dorongan, kabar ini itu dari keluarga jelas telah didapat sebelumnya. banyak kabar bahagia yang berujung membuat diri semakin bertanya. kapan?                             mungkin semua akan terjawab dengan hitungan minggu, bulan atau tahun. mungkin belum bisa dijawab sekarang. Yang ku tahu, doa dan sabar tak pernah menghasilkan keburukan.

Semakin larut keadaan hati dan pikiran berjalan lambat menaiki titik eksponensial, untung saja imajinasi segera membawa ke alam mimpi. Membawa diri menjauh pada sidang terbuka di kepala dan tokoh-tokok fiksi lain yang mengisi forum perbincangan. Termasuk dia, dia dan dia.