Berteriak bersama

Angin malam yang sudah biasa dilewati,

Menjadi kawanan pengiring tabuhan diri

Melintasi sesuatu yang bergerak di dalam sini
Bergejolak dan meraungi

Kata terkatup menutup
Pandangan tak bisa disuap
Beradu terantuk dan siap-siap
Hap

Disepersekian detik ada yang meneriaki,
Aku di sini !
Aku (juga) di sini !
Mereka berkata, berteriak dalam hati

Advertisements

Perpindahan

Membayangkan 

Segala angan menuju tujuan masa depan

Meninggalkan

Apa yang sedang di depan bertatapan

Kadang kehidupan,

Tak layak dijadikan sesembahan

Retorika dunia maya tidak lagi dibanggakan

Kenyataan 

Dan jarak beradu untuk menantang,

diri di bawah tekanan. 

Ulasan

 Aku berada di keadaan sadar dan tetap berjaga

Perlahan luka menutup tanpa terasa

Ketika kata “ikhlas” telah banyak disarankan mereka

dalam perjalanan mencapai kenyataan yang sebenarnya

 

Benci mungkin tidak,

Walau benak tak henti-hentinya menebak

untuk masa depan tak terlihat tertebak

tentang dia yang telah menjebak

 

Hidayah-Nya sungguh tiada tara

Menyinari hati yang sedang merana,

Tercela dan tersiksa

Maha yang diagungkan oleh semuanya,

yang di Tangan-Nya mengalir asmara untuk hamba

dalam kesedihan tiada tara.

Ulasan, tanpa alasan mengembalikannya di jiwa

Tiga titik

Dua selalu membelenggu

pada kisah yang menjadi satu.

Perpisahan acapkali bercerita sedih

Terbawa waktu hingga tak sadar menjadi peluh

Peluh yang melusuh diantara kediaman kita

Dan kita menjadi kata

Yang berderik di lembaran-Nya

Savana Hangat

Sore selalu mengantarkan perjalanan menuju senja memikat

oleh secercah warna jingga pekat

dan tak terasa kuingin engkau mendekat

    Bersahabat

Jalan pulang mengantarkan pada kasih sayang semesta

oleh sepunuk pundak tanpa suara

“iya”, satu kata menuju perjalanan rahasia

    Terasa