Tiga titik

Dua selalu membelenggu

pada kisah yang menjadi satu.

Perpisahan acapkali bercerita sedih

Terbawa waktu hingga tak sadar menjadi peluh

Peluh yang melusuh diantara kediaman kita

Dan kita menjadi kata

Yang berderik di lembaran-Nya

Bukit Konoha

sunyi dalam malam

kering kala terik siang menerjang

berjajar, memanjang, dan terjal

seolah melindungi barisan nyiur melambai

ada beragam misteri seolah tenggelam

wahai yang terlihat kokoh di sana

saksi pengeboman yang sengaja

 

oleh seorang pecandu kopi di sebelahku, ini judul yang aneh 🙂

Tebole, 2015

Pembicaraan tak kasat indra

Kita saling berbicara seperti mereka

Mereka yang sedang berbicara pada kita

Kita tahu mereka tapi tidak mereka

Bingung (?)

Tak jarang ada rasa yang ambigu

Karena adanya kealpaan kata

Bahagia (?)

Hanya kita yang mengalirkannya lewat ruang,

Tak kasat mata

Di antara celah-celah udara

Dan keluar kata dari mata kita

Yang kadang terlihat sayu namun menggelora

Peka  (?)

hmm… semoga

Ayo, mari kita berdoa

untuk pembicaraan yang tak kasat indra

 

 

feature image: https://id.pinterest.com/search/pins/?q=Girl&pin=488710997040647873&lp=plp

 

Savana Hangat

Sore selalu mengantarkan perjalanan menuju senja memikat

oleh secercah warna jingga pekat

dan tak terasa kuingin engkau mendekat

    Bersahabat

Jalan pulang mengantarkan pada kasih sayang semesta

oleh sepunuk pundak tanpa suara

“iya”, satu kata menuju perjalanan rahasia

    Terasa

Bercanda di samudera

mata beradu mata pada kedua kalinya

berpapasan dengan pasangan mata lainnya

penuh tanda dan tanya

mendesaak, memaksa dalam kebenarannya

pagi itu cukup bahagia,

melihat kita dalam tawa lepas tanpa jeda

sembari bermain air di samudera hindia

kita, untuk pertama kalinya

menghiraukan tatapan yang nyata, disekeliling kita

nyiur diseberang nampak fatamorgana

 

 

Pada ocehan-ocehan yang ironi

Kubungkam hal yang sepertinya tak layak

mengatur sama berat antara ini dan itu

menjaga sedemikian rupa agar tidak pernah luput

aku mengikuti baris-baris percakapan,

dimana mereka hanya diam

dan aku merasa merendahkan diriku sendiri

kali ini ya

aku benar-benar ingin membuka topeng

setahun,

waktu yang cukup lama untuk menekan ‘ubun-ubun’

aku pergi

pada ocehan-ocehan yang hanya sekilas pergi tanpa dimengerti

pada ocehanku yang ironi untuk kalian

Sampai berjumpa di masa depan