Berteriak bersama

Angin malam yang sudah biasa dilewati,

Menjadi kawanan pengiring tabuhan diri

Melintasi sesuatu yang bergerak di dalam sini
Bergejolak dan meraungi

Kata terkatup menutup
Pandangan tak bisa disuap
Beradu terantuk dan siap-siap
Hap

Disepersekian detik ada yang meneriaki,
Aku di sini !
Aku (juga) di sini !
Mereka berkata, berteriak dalam hati

Advertisements

Warna

Jumat pagi merona

Di bawah terpaan cahaya

Aku melihatmu tak sengaja

Bertatap-tatap melewati kaca

 

Jumat pagi merona

Lihatmu sampai diujung jalan sana

Membakar tenaga untuk bahagia

Kamu masih nyata

Di dua tahun adanya

 

Titik-titik bahagia

Minggu kemarin rasanya belum lama terlewati, ketika hujan rintik yang reda menyadarkan tentang suatu rasa. Tepat dua minggu aku menjadi ‘pemain tunggal’ di laboratorium. Dua kawanku sudah Mel ngang bersama mimpinya. Dua minggu pun, aku baru mulai serius memegang kendali tanggung jawab. 

Aku terus membujuk diri untuk menyadari akan ada hasil bahagia setelah ini. Meski kadang hati lebih sulit dilumpuhkan dari pada kepala. 

Lalu, di salah satu sore setelah hujan. Aku mendapati kawan seperjuangan kuliah dengan muka berseri sedang menunggu di warung. Kuadakan sapaan kecil dan ia balik menyaut. Ternyata, usaha makanan jepangnya telah ludes terjual hari itu. Pantas mukanya sumringah. Aku tersenyum kecil dan melanjutkan jalan menuju kosan. 

Selang dua hari berikutnya, di pagi hari tepatnya. Tak sengaja berpapasan dengan teman dekat yang lama tak bertemu dan tak berkabar ria. Dia membonceng temannya, berhelm hitam full face dan berjaket hitam, seperti biasanya. Entah, sekonyong-konyong aku melepas senyum dan mengarahkan mata ke spion kanannya. Kupikir dia pun tahu. Apa daya, sepanjang jalan menuju kampus aku tak sadar jika masih senyum-senyum sendiri. Memalukan? Biarkan. 

Mendapati rindu yang ada di depanmu bukankah itu membahagiakan ? 

Ada lagi, seorang sahabat ingin melepas penat seusai bekerja di site tambang. Kini ia bercerita tentang betapa beratnya hidup di sana. Mengurai kisahnya dari masalah pekerjaan sampai rumitnya keadaan hati. “Hidup tidak boleh hanya bertahan saja, tapi butuh perjuangan” kata-kata yang sering diucapkannya. Di luar semua keluhannya, ia merasa bersyukur atas hal yang didapatkannya. Dan yang terpenting adalah, ia akan kembali bertemu keluarga. Membawa sederet cerita rutinitas gelar anak tambang, obrolan hati dan kembali sejenak mengulik dapur seperti sebelumnya. 

Jika kamu sulit melihat ‘dimana bagian bahagianya?’ Coba tanyakan pada hatimu.