Resep: ayam pedas bumbu kecap

20180714_162704Kembali lagi ketemu sama weekend dan bingung mau ngapain, yah masak lagi aja. Perut kenyang, hati senang. Btw, hawa akhir-akhir ini cukup dingin jadi aku mau bikin yang hot biar keringetan dikit heehe. Kalo mau coba, silahkan praktekkan menu ini ­čśë

Bahan:

Ayam

Kol

Tomat

Bawang bombay

Bawang putih

Cabe

Lada

Garam

Gula merah

Penyedap rasa

Kecap bangooo

 

Cara masak:

– Bahan potong

1. Potong ayam jadi beberapa bagian, sesukamu, lalu dicuci bersih

2. Potong kol dengan bentuk besar-besar (seperti dibuat sup)

3. Potong tomat memanjang (sesukamu, bisa pakai apa nggak, buat pemanis dan rasa asam)

4. Potong bawang bombay dengan bentuk seperempat lingkaran

5. Potong cabe seperti biasa agar rasa pedasnya bertambah (sesukamu berapa)

– Bumbu halus

6. Bumbu seperti bawang putih, lada dan garam dihaluskan (uleg)

7. Wajan dipanaskan dengan minyak (pakai margarin juga bisa). Tumis bumbu yang sudah dihaluskan sampai baunya harum dan potongan cabe, beri air secukupnya (3 gelas belimbing) lalu masukkan ayam yang telah di potong dan ungkep kira-kira 10 menit.

8. Masukkan poyongan bawang bombay dan beri kecap dan penyedap rasa secukupnya.

9. Biarkan sampai bumbu meresap. Jika sudah hampir kering (airnya), kol bisa dimasukkan agar tidak terlalu lembek, dan dibolak-balik sampai warna ayam menjadi cokelat.

10. Terakhir, tambahkan potongan tomat di atasnya sebagai penambah rasa asam

 

 

Advertisements

Illustration for Song

For the past year i have recieved another order from my friend to make illustration for his songs. well, actually i am so excited when making those art. why not? there is a proccess convert words into visual form. I really enjoy analyze, imagine and transform that matter in my head. You have to make customization ? it’s free to cantact me, let me help you ! ­čÖé

kopi-untuk-kinanti-2
secangkir kopi untuk kinanti
malam-klasik-2
malam klasik
selamat-pagi-penghuni-bumi
selamat pagi penghuni bumi

Beragumen: Satu frekuensi

Setiap waktu, entah kapan pasti kita punya teman baru. Teman yang benar-benar baru yang datang dari berbagai usia, latarbelakang dan pemikiran. Buatku, sebenarnya berkenalan itu nggak cukup hanya tau nama, asal darimana, anak siapa, lulusan apa dan dimana. Lebih dari itu. Aku lebih senang kalau berkenalan nggak hanya tahu nama dan segenap basa-basinya. Lagipula kalau hanya tahu nama kita bisa dengar namanya pas dipanggil temennya kan? Ya, aku memang terkesan sombong. Kecuali, orang itu tiba-tiba ada di depanku dan nggak sempat memperhatikannya dulu.

Banyaknya teman-teman baru ini jelas jadi pekerjaan rumah, buatku. Kenapa bisa? Aku ingin (selalu) mencari teman yang satu frekuensi. Menurutku mereka bisa menyehatkan mentalku selain berada di ruang privasiku. Iya, aku bocah introvert yang kata banyak orang tertutup itu. Frekuensi adalah salah satu kunci mendapatkan hubungan pertemanan yang berkualitas. Yang menyehatkan, mendukung dan berbagi energi positif. Gimana bisa tahu? Gampang, dimana dirimu nyaman berbincang dan nyambung sama mereka, itu. At least, kamu dapat energi positif dari mereka.

Berada di lingkungan yang nggak satu frekuensi jelas buat kamu jadi pribadi yang mudah depresi atau penuh suasana negatif. Yang sensitif bisa semakin menjadi-jadi kebaperannya, yang cuek-cuek aja malah jadi salah paham. Runyamlah. Tapi, kalau itu ada di lingkungan kerja, ya kadang harus ada trik-trik khusus. Baiknya, memang perlu diimbangi dengan kawan yang satu frekuensi tadi.

Walaupun ya, belum dapet juga sih.

Aku pernah baca di satu artikel,”yang satu frekuensi akan mendekat”. Dan aku percaya. Mungkin di awal belum keliatan kalau di sekitar ada. Kebalikannya juga, yang dipikir dekat, rame, enak diajak cuap-cuap tapi ternyata “rasa” di hati kita nggak klik sebenarnya. Ada.

Rumit yha. Memang

 

Kilas balik

Ratusan kilometer menghadang pandang

Hanya ada ruang

Tanpa sepatah kata untuk mengundang

Kubuka tirai untuk sedikit menengok

Ke padang jalang

Ternyata kau sudah sejauh ini dipandang

Bersama dia yang tersayang

Selamat, bayang

 

Menyamakan

Rumah baru yang kutinggali setelah bertolak dari yogya adalah Denpasar. Kota yang dipandangan banyak orang panas, ramai, membahagiakan dan santai seperti holiday. aku sebaliknya, merasa tidak nyaman jika setiap hari serasa di kerumuni banyak manusia. Terlalu banyak, manusia dan ocehan-ocehan ringan pengisi riuh ditengah hiruknya pekerjaan. belum lagi ternyata harus berhadapan dengan kenyataan untuk tinggal berdua di dalam satu kamar. entah berapa lama aku bisa bertahan.

Sementara menyamakan diri dengan lingkup pergaulan kadang lebih mudah  dari pada harus menyamakan sisi-sisi personal. Sebenarnya ini yang menciptakan sebuah rasa tidak nyaman dalam berteman, dalam satu kamar. Oke sebut saja aku egois. Ya, aku egois karena tidak ingin membagikan hal-hal personalku dengan orang yang baru aku kenal sebulan.  Aneh saja mengatakan tentang dirimu ini dan itu kepada orang baru agar ia mengerti tentang keadaanmu. Buatku itu, basi dan memuakkan. Tapi kadang kenyataan dan keadaan memaksa kita untuk bertindak seperti itu. ah ya, tau tak mau.

Aku tak ingin menyudutkan personality traitsku sebagai penyebab pikiranku ini. yah, terlahir menjadi seorang introvert memang rumit, aku pun kadang tak bisa menjelaskan, menulis apalagi mengatakannya. Semua yang tak lain dan tak bukan adalah untuk menjaga perasaan orang lain agar tidak tersakiti .

Tunggu waktu. Sepertinya hak untuk menjadi pribadi yang bermental sehat adalah membicarakan tentang keadaan. Aku akan bertindak tapi tidak sekarang, tunggu.