Menjadi seorang pengamat

Beberapa hari ini orang-orang di sekitar nampak seperti kehilangan senyuman. menggantinya dengan tawa palsu dan topeng agar terlihat baik-baik saja. Aku sekali lagi, bisa melihat perubahan gerakan garis dan warna wajah mereka. Hidup sebagai seorang pengamat tidak pernah mudah. Jelas, aku tak pernah meminta ini pada Tuhan. Kebiasaan ini aku asah secara tak sengaja sejak duduk di bangku Te-Ka dan berlangsung sampai dewasa. Sehingga seakan-akan kaulah yang bertugas menarik kesimpulan dari peristiwa orang-orang terdekatmu.

Kehidupan selalu tak pernah terlepas dari kasus mencinta-dicinta-mencinta (tiga titik maut). Tatkala semua subyek adalah orang terdekat yang mempercayakan ceritanya kepadaku dan sirat-sirat mata mereka beradu nyata terlihat. Rasa-rasanya aku ingin menghilang seketika, menyaksikan maksud dari sorotan mata yang banyak berbicara. Seseorang pernah mengatakan untuk bersikap acuh, tapi apakah aku di sini hanya untuk bersikap acuh? bagaimana jika aku memang sengaja ditempatkan oleh-Nya untuk menilai, mengambil hikmah bahkan membantu mereka?. Ini teka-teki, lebih susah dari teka-teki angka ibu di rumah.

Beberapa hari kemudian, ku temui lagi seorang yang kuanggap dekat menekuk mukanya hingga layaknya alat musik akordeon. Ketika ada pemantik humor dia mengendurkan kulit wajahnya (senyum palsu) dan kembali mengerutkan garis wajahnya selepas tersenyum. Aku sebal sebenarnya menerka-nerka keadaan orang lain. Tapi, aku yang penasaran segera membuat jalur jalan tikus di kepala dan membuat sebuah gagasan asal. Kadang, ketika seseorang terlihat murung beberapa bagian dirimu pun ikut sedih. Kau ingin tahu apa masalahnya dan mencoba membantu, tapi kau seakan tak punya hak untuk itu.

Hari-hari telah terlewat, banyak cerita bertumpuk, berpacu di kepala untuk di ambil benang merah. Malam ini aku telah mendapat cara yang lebih sehat untuk membantu orang terdekat dalam cerita tiga titik maut. Tanpa sengaja yang mungkin ada campur tangan-Nya. Tapi aku belum menemukan jalan untuk membantu si muka akordeon ini. Semoga ia segera pulih kembali dan gila seperti biasanya. Dan juga di kemudian hari aku bisa sedikit membantunya, setidaknya ia tahu aku menulis ini sedikit lebih juga berusaha untuk memulihkannya.

Advertisements

INFP, Tipe kepribadianku

Beberapa hari yang lalu aku coba tes MBTI sekali lagi, karena sebelumnya pernah berkali-kali coba tapi hasilnya nggak sama terus. Dan yang mengherankan hasilnya Introvert sangat bertolak belakang dengan hasil kemarin, aku ragu tapi setelah diulang dua kali hasilnya tetap sama INFP-T. Lalu, aku membaca membaca diskripsi tentang tipe kepribadian itu daaan hasilnya 85% sama !. Nama lain dari tipe ini adalah si idealis (the idealist) atau si pemimpi (The dreamer) dan populasinya di dunia sekitar 4-5%.

Untuk mengetahui sifat ataupun segala macam tentang INFP secara umum bisa dilihat di situs ini . Selebihnya aku bakal cerita beberapa hal yang aku rasakan sebagai INFP.

Aku, sabila rahmawati seorang INFP.

Seseorang yang membutuhkan keseimbangan dalam hidup. Ya, aku pikir hidup harus seimbang, bahkan aku punya beberapa notes agar hidupku tetap seimbang. Seimbang di sini dalam arti jiwa maupun raga. Baik dari makanan, pikiran, hubungan antar manusia dan Tuhan. Kalo ada salah satu yang nggak beres langsung cari penyebabnya dan berpikir keras biar seimbang lagi. Live in life with harmony~ sabun kaliii.

Seseorang yang nggak enakan sama orang lain ketika minta tolong, perlu pemikiran yang panjaangg nggak ketulungan. Padahal cuma minta tolong buat pinjem printer scan, harus berpikir berulang dan di akhir keputusan ”nggak usah pinjem aja, ntar ngrepotin”. Tapi, bukan berarti nggak pernah minta tolong ya. Adakalanya ngerasa minta tolong sama orang yang bener-bener deket secara spontan tapi untuk minta tolong lagi di periode berikutnya cenderung sungkan. Kalaupun jadi minta tolong diberi jarak waktu tertentu biar orang lain ngerasa nggak kerepotan.

Seseorang yang punya khayalan sejauh planet pluto dan kalau punya intuisi udah sok-sok ngalahin ramalannya ki jokobodo. Tapi beberapa intuisiku untuk seseorang 75% bener sih (haha tuh kan). Makanya nggak jarang kehidupannya dipengaruhi sama khayalan-khayalan nggak jelas. Kadang bisa bingung sendiri sama pikiran yang ada di kepala.

Seseorang yang selalu meletakkan perasaan di atas segalanya. Ini ruwet banget aslik !. Kalo buat pertimbangan susah untuk berpikir logis (berusaha menjadi obyektif dan logis). Kalo pilih ini takut salah, itu takut diri sendiri nggak bahagia, gini terus sampe capek sendiri dan akhirnya memutuskan sebuah keputusan yang dianggap ‘tega’. Beberapa temen bilang itu nggak salah, tapi diri ini bilang ”itu nggak manusiawi, bil” kan bingung -_- (besok harus cari pasangan yang logis).

Seseorang yang bisa mendengarkan pendapat orang lain tanpa membuka mulut tanda pengen ngomong. Apalagi kalo ada temen tiba-tiba ke kosan curhat, sambil merem juga tetep bisa dengerin curhatannya (habis itu kebablasan tidur hehe). Ketika seseorang benar-benar datang untuk ngobrol secara intim bakal seneng banget karena ngerasa dipercaya buat nyimpen rahasianya. Sebenernya nggak suka banget sama orang yang curhat kemana-mana pun di ruang terbuka (diri ini di kesampingkan, ceilah) dan aku jadi orang kesekian yang dicurhati. Kalo udah gitu masa bodo, anggap aja itu angin lalu lha katanya curhat jangan bilang siapa-siapa kok malah sebar aib diri.

Seseorang yang menggunakan kode-kode rahasia melalui bahasa perumpamaan dan puisi (ada yang tahu nggak kodenya buat siapa haha). Ini jelas bisa langsung tepat sasaran kalo yang dikode nyambung tapi kalo nggak yaaa sia-sia sih tapi, nggak apa-apa yang penting maksudnya udah tersampaikan.

Seseorang yang kata temen kreatif dan nggak bisa diem kalo di ruang privatnya. Pernah dimarahin ibu cuma buat makan karena terlalu asik sama kuas dan cat air pas jaman SMA. Harus seproduktif mungkin, cari-cari ide buat ini-itu yang nggak terpikirkan orang lain, bahkan kalo bisa dari sepatu-baju pengen buat sendiri alias handmade hahaha maksa sih. Suka banget sama hal-hal yang berhubungan sama kreatif desain, hal lain berbau handmade, etnik dan bernilai seni.

Seseorang yang menyukai tulisan untuk menyampaikan perasaan atau hal yang dipikirkan dari pada harus bilang langsung (ceilahh bil bil, melow amat). Malu lah! pake text note ajalah gampang, nggak usah pasang muka kikuk. Kalo kikuk kan takut salah omong. Walaupun gitu pernah kok berani ngomong sesuatu yang ‘nendang’ tapi nggak berani lihat mata lawan bicaranya secara langsung. Malu woiii atau takut lawan bicaranya marah dsb (yah you know lah, sangat berperasaan).

Seseorang yang sering dibilang aneh sama temen-temen -_-. Nyaman dan nyambung sama orang-orang yang diangap aneh sama orang lain. Bahkan malah tertarik sama orang yang dianggap aneh itu. Mereka cenderung punya pemikiran luas dan berani. Tapi ya, obrolan dengan orang-orang seperti itu cukup menguras tenaga kadang (ini seriusan, aku capek kalo selesai ngobrol sama orang-orang itu).

Terakhir, seorang INFP ternyata juga cukup fleksible dan suka bersosialiasi lho. Jadi anggapan kalo introvert itu selalu menyendiri adalah salah. Bahkan kadang aku menemukan diriku sendiri cukup rame di dalam grup atau sebuah diskusi. Tapi tetep yang paling ku suka adalah mengamati orang-orang dan memahaminya secara mendalam. Walaupun kadang dibilang pendiam dan perenung (merenungi nasib juga sih dikit hehehe).

Ya begitulah beberapa penjelasan tentang tipe INFP. Kalo tipe kamu apa? siapa tahu kita samaan 😉