Facing life before a quarter life

Tahun ini adalah angka yang ke-23 untuk perjalan hidupku sejak lahir. Sudah sarjana, tapi seolah tak bermodal apa-apa. ironis. penerima beasiswa negara, mana suaranya?. Perlahan aku mencoba mengurai  pikiranku yang telah berlalu beberapa bulan belakangan ini. Ada segudang gundah yang menghantui ketika mata akan terpejam., ketika badan mulai di rebahkan yang tak jarang bunyi tulang berkelotekan. Banyak, bahkan terlalu banyaknya hingga tak sanggup mengungkapkan melalui aliran suara kepada-Nya. Sholat malam sudah dilakukan sebisa mungkin dengan niatnya, tapi tak kunjung jua jawabannya. Remang-remang mimpi yang telah didapat.

Rasanya memang sudah bergantung pada sebuah dahan, tapi dahan itu rasanya belum cukup kuat untuk ditopang.  Kata mereka, jalani saja dulu. mungkin itu jalan takdirnya. aku, diam. Angan-angan untuk langsung beraksi di kancah korporasi memang tak mudah. Beragam hal sudah dilalui, panjangnya bait-bait doa telah diucapkan, usaha jelas telah menuai banyak aral, dan prosesnya sama, menunggu. hingga berbulan-bulan dan itu perlahan pudar.

Keadaan hati yang turut serta dalam carut marut pilihan pekerjaan menjadi bumbu yang sedap mantap. Saat pasangan-pasangan di sekitar mulai berguguran  dan kandas. disamping tak sedikitpun lainnya yang menjadi dua dan mengikat asa bersama. secepat itukah? halo, ada seseorang di sini yang masih kebingungan. sementara itu, bisakah aku dan ia menjadi kita? dalam kata dan doa. jika ruang adalah perantara untuk rindu maka apakah harapan itu masih nyata adanya?. Terlalu banyak semoga pada kebisuan ini, semoga menjadi realita.

Dorongan, kabar ini itu dari keluarga jelas telah didapat sebelumnya. banyak kabar bahagia yang berujung membuat diri semakin bertanya. kapan?                             mungkin semua akan terjawab dengan hitungan minggu, bulan atau tahun. mungkin belum bisa dijawab sekarang. Yang ku tahu, doa dan sabar tak pernah menghasilkan keburukan.

Semakin larut keadaan hati dan pikiran berjalan lambat menaiki titik eksponensial, untung saja imajinasi segera membawa ke alam mimpi. Membawa diri menjauh pada sidang terbuka di kepala dan tokoh-tokok fiksi lain yang mengisi forum perbincangan. Termasuk dia, dia dan dia.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s