menunggu dan menunggu

menunggu,

adakah kabar baik setelah bersusah payah dengan kata itu

adakah jawaban bahagia atas pertanyaan di dada

adakah seolah ia menjadi nyata?

menunggu,

bagai anak gadis mendamba sang pujaan

memanggil dalam diam di diri

seakan akan terpenuhi

menunggu,

sebuah kata tanpa jawaban pasti

pada siapa ia akan datang

untuk apakah ia akan kembali

menunggu,

seribu tanya di hati dengan satu jawaban tak pasti

hingga panjangnya doa kadang tak terpenuhi secara utuh

 

pecutan sebendel kertas pucat

malam menutup senja dengan perlahan

membuka kembali memori isi kepala

menoreh tinta-tinta pikiran pada kertas digital

memecut badan seolah tak tertahankan

sang malam yang begitu kelam kala ini

bunga-bunga di hati berubah menjadi mati

digantikan sepucuk nasib diujung ubun-ubun

ayo, lekas berpikir, kataku dalam diri

dan yang tertulis ternyata cerita lain,

tentang impian dan ambisiku

bukan tentang sebendel kertas berwajah pucat

 

jika yang menjadi nyata

jatuh cinta selalu membuat kita lemah dan pusing

tak ada kata bahagia yang hakiki untuk menggambarkan jatuh cinta

ia hanyalah segumpal perasaan yang menjelma dari keputusasaan

pun untukmu sang pengikutnya

sedikit sarkasme untuk kata ‘jatuh’

lahir dari sebuah ironi kehidupan

membawa hidupmu ke dalam alam fatamorgana

menyulap lilin menjadi lampu-lampu taman nan indah

menghilangkan sesak di dalam aliran darah

tahukah? jatuh, tidak akan pernah ke atas tapi ke bawah

bangun, maka kata yang tepat adalah bangun cinta

ia tak pernah menawarkan emosi semata

tanpa perjuangan hanya dengan kata-kata

ia nyata, tak pernah mempermainkan jiwa

sebuah kolase panjang yang seolah menderita, memang

penuh keputusasaan dan sejumlah hal membingungkan hati

menggoyahkan kepercayaan,

tapi, yakin lah

ia tak datang dengan tangan hampa

akan ada sekelompok binar-binar yang akan menghiasi tangis bahagiamu

maka, bertahanlah.

bertahanlah wahai hati yang lemah

‘bangun’ ia, seberapapun susahnya