Langit Biru, Lapangan, Nisan Dan Kuas

kebunkini kau telah pergi ke dunia yang tenang kawan via http://fppi.fkip.unila.ac.id/2014/10/

Langit di atas masih berwarna jingga gelap bercampur biru. Kala itu aku sedang dalam perjalanan hendak pulang kerumah dari masjid. Aku berjalan sendiri menyusuri lorong-lorong waktu masa lalu. Aku masih ingat ketika itu, sama seperti di saat senja ini. Aku masih bisa merasakan pusaran waktu sekarang membawaku ke masa lalu yang tak bisa dilupakan.

Aku masih ingat ketika aku menatap langit senja setelah aku pulang dari  masjid. Aku merasa tenang di hati, Tuhan telah menganugrahkan semuanya padaku dengan lengkap. Walaupun keluargaku tergolong sederhana aku tetap merasa tercukupi secara ekonomi dan kasih sayang. Orang tuaku hanya pedagang makanan biasa di rumah. Aku masih SMA kala itu.. Semuanya berubah dengan cepat dan tanpa ku sadari. Dulu aku masih sering mengaji ketika di masjid walaupun itu hanya seorang diri, kulakukan karena aku tak bisa melakukan apapun. Hanya do’a yang bisa ku panjatkan kepada-Nya. Di sekolah pun aku merasa ada malaikat yang membuatku tenang ketika menuntut ilmu. Aku jadi tenang sehingga mudah menerima ilmu yang diberikan guru.

Aku juga melihat rumput-rumput di lapangan depan rumahku sudah tinggi-tinggi.di pinggir bagian utara juga sudah ditumbuhi 4 pohon talok. Aku tak bisa lagi melihat langit luas dari depan pintu ketika melihat indahnya sore yang cerah.  Dulu lapangan itu setiap sore digunakan untuk  bermain sepak bola oleh remaja di desaku. Dan aku masih bisa melihat langit luas berwarna biru cerah di atas gunung lawu. Ramai sekali apalagi kalau pas acara agustusan. Ibuku bisa laris warungnya dengan berdagangan es. Ada seorang temanku yang dekat denganku dulu yang juga sering bermain sepak bola di lapangan itu.

Ketika kulihat jalan menuju rumah pun kini baru selesai di aspal lagi. Dulu jalan ini tak separah ini dan masih halus untuk di lewati. Suara kakiku terdengar sangat berisik saat aku menapaki jalan yang baru ini. Aku tersenyum sembari jalan perlahan dengan melihat sekitar.

Dulu aku sering termotivasi dengan arah jalan menuju rumahku. Jalan itu hanya mempunyai satu belokan dan jika aku sudah berbelok kudapati langit tinggi di depan yang luas. Aku sering menganalogikan awan yang berwarna jingga di depan itu adalah cita-citaku. Sedangkan jalan yang kulewati setiap hari adalah jalanku menuju asa itu. Dan batu-batu kecil itu bisa membuatku tersandung apabila aku tak berhati-hati terhadapnya. Walaupun hanya begitu aku cukup terdorong ketika aku tak bersemangat.

Aku rinduu ternyata dengan masa lalu… Jika bisa aku ingin kembali ke sana sejenak lalu  kembali lagi di waktu ini. Aku rindu dengan langit biru dimana aku berangan-angan jauh. Aku rindu saat dia menatapku dan tersenyum dari lapangan sambil hujan-hujanan (kasihan ya, tapi biarin aja biar aku senang hihi). Aku rindu rumput lapangan yang sering kugunakan untuk bermain dengan temanku. Aku rindu… Andai ada alat yang bisa membawa ke masa lalu sejenak.

Aku tahu masa lalu hanya bisa di kenang dan dijadikan tolak ukur perbandingan dengan masa depan. Aku cukup mengerti tentang ini. Tapi.. Masa lalu bisa menjadikan kita lebih rendah hati terhadap apa yang terjadi di masa kini. Kini aku sudah berkuliah di universitas yang bergengsi di indonesia dan nomor 1 di negaraku. Aku sangat bahagia tentunya. Tapi semua ini tak akan mengubah dan melupakan kenanganku di masa lalu.

Ketika sahabatku muslimat meninggal pun aku masih ingat. Aku masih kelas 1 SMA waktu itu, dan aku tak percaya. Namun takdir  memang tidak salah. Ia telah meninggal karena kanker otak yang tidak di sadarinya. Dia selalu mimisan ketika kami masih duduk di bangku SMP. Tapi aku dan sahabatku yang lain mengacuhkannya. Aku menyesal telah menyuekkannya dan menganggap dia anak aneh. Padahal dialah yang berhati besar untuk keluarganya. Dia termasuk sahabat terbaikku diantara sahabat-sahabtku yang lain.

Kemudian waktu itu aku ajak temanku menuju rumahnya dan berziarah ke pemakamannya. Temanku tak sanggup dan tak percaya melihat batu nisan itu atas nama dia. Bahwa di bawah gundukan tanah yang gembur itu ada jasad sahabatku, muslimat. Ayah dan ibu muslimat pun tak kuasa menahan air mata mereka ketika bercerita tentang anak sulungnya. Kami pun semakin sedih dan juga tak tahan menahan buliran air di sudut mata.

Lalu bayangan tentang muslimat hilang berganti dengan gambar cat air dan kertas A3 di depan jendela. Aku sering berlatih melukis di sana.. Menghabiskan waktu luang di depan jendela hanya untuk melukis pohon. Aku suka melukis, apalagi kalau gradasi warna. Meskipun itu lama untukku tapi aku sangat menyukainya dan teliti dalam menyatukan warna yang kontras. Aku  belum bisa melukis sempurna tapi aku ingin berusaha melukis seperti  temanku yang pandai dalam hal menggambar.