Guru Air dari Negeri Van Oranje untuk Indonesia

Artikel ini dibuat untuk di kompetisikan dalam acara Holland Writing Competition 2015

Oleh : Sabila Rahmawati

Tema: Water

 

eb95d2ab-b195-4c30-a9d5-de45385b0706_WaterProyek Afsluitdijk yang memisahkan provinsi Noord-Holland  dengan provinsi Friesland  [1] .

Bicara soal Belanda, tentunya tidak terlepas dari elemen kehidupan Air. Ya, salah satu elemen utama yang harus dihadapai agar menjadi sahabat kehidupan masyarakat Belanda. Mengapa tidak, sistem manajemen air harus dilakukan secara konsisten, terkontol, disiplin dan ramah lingkungan agar tercipta kehidupan yang tetap berkelanjutan. Bahkan, tidak tanggung-tanggung untuk mengatasi masalah air negeri van oranje ini mengadakana megaproyek dalam kurun waktu sangat lama. Seperti pembangunan Afsluitdijk konsep yang dibuat yakni pembangunan tanggul untuk menghubungkan provinsi Noord-Holland dengan provinsi  Friesland. Proyek ini dilakukan secara ecological sustainability, pembangunan Afsluitdijk berguna dalam Proses purifikasi dari limbah air dijamin terbebas dari cemaran logam berat dan zat yang membahayakan sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan air mineral sehari-hari. Disamping itu juga, Afsluitdijk  menjaga seluruh daratan Belanda agar tidak terendam oleh air laut.

Lalu apa hubungannya dengan Indonesia ?

Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas 2/3 air menjadikan laut sebagai  salah satu sektor penting untuk mengembangkan perdagangan. Pengembangan di bidang kelautan dimulai pada 1911 dengan terbentuknya Bugerlijk Openbare Werken yang diubah menjadi Departemen Verkeer en Waterstaat pada 1931. Sepanjang waktu sampai kemerdekaan tercapai merupakan fase pasang surut pertumbuhan organisasi kelautan dalam struktur pemerintahan kolonial maupun Republik Indonesia merdeka. Unit-unit warisan kolonial Belanda inilah yang menjadi cikal bakal pembentukan Kementerian yang mengelola aspek kelautan di masa sekarang.

Seiring berjalannya waktu pengelolaan perairan di wilayah pesisir semakin menurun dengan adanya aktivitas yang semakin padat. Pengelolaan sumberdaya air laut juga memerlukan adanya inovasi untuk mengatasi permasalahan air limbah buangan dari industri dan rumah tangga yang nantinya akan bermuara ke laut.  Seperti di daerah Muncar, Banyuwangi limbah hasil perikanan langsung dibuang ke saluran umum. Rendanya tingkat pemahaman IPAL dan sistem manajemen limbah menyebabkan pengelolaan air limbah yang dihasilkan.

Bagaimana sang guru memberikan contoh ?

Sudah tradisi Belanda sejak lama untuk mengembangkan sistem penanganan bahan pencemar dan air limbah. Masyarakat Belanda bahkan sudah melakukan pengelolaan pencemaran sejak awal abad ke 19. Dan kini sistem tersebut lebih mudah dioperasikan serta lebih canggih. Sekitar 99,9 % rumah tangga di Belanda menggunakan air minum yang terbebas dari klorin melalui proses purifikasi. Bahkan, sekitar 51% dari perusahaan teknologi air di Belanda mengembangkan produk dan pelayanan baru selama 3 tahun. Selain itu,  kondisi Belanda yang berada di permukaan air laut menjadikan negeri kincir ini terus mencari inovasi agar siklus hidrology berjalan secara seimbang dan berkelanjutan. Salah satunya, cara  Belanda di bidang air untuk meningkatkan kebersihan dan ketersediaan air minum lintas negara  dengan menerapkan inovasi membrane technology, anaerobic water purification (UASB), membrane bioreactor (MBR – small scale & high quality) dan Anammox technology.

Pertama, teknologi inovasi membrane menjadi  teknologi yang  dibanggakan lebih dari 1 dasawarsa. Membran ini digunakan pada pemprosesan air dari bawah tanah, air permukaan ataupun air limbah. Proses Pemisahan membran menggunakan prinsip membran semi permeabel, mekanismenya yakni membran berperan sebagai penyaring spesifik yang akan mengalirkan air sementara itu membran bahan-bahan padat tersuspensi dan substansi lainnya akan terjebak pada membran.  Banyak metode yang dapat diterapkan di sistem membran ini. Contoh pengaturan sistem ini dapat menggunakan tekanan yang tinggi, pengaturan gradien konsentrasi anatara kedua sisi dan potensial listrik.

Kedua, pengolahan limbah cair menggunakan bakteri anaerob. Prinsip pada proses ini ialah menggunakan bakteri anaerob untuk mengkonversi polutan atau COD (Chemical Oxygen Demand) menjadi biogas yakni oksigen bebas yang ada di lingkungan. Treatment  anaerobic menggunakan energy yang efisien dengan sebagian kecil area untuk reaktor, dan penggunaan bahan kimia yang sedikit. Teknologi ini menghasilkan beberapa produk seperti  Biobed® Advanced, Memthane®, Biobulk CSTR, Pomethane®, Sulfothane™, Biogas Manager Control SMART, Biogas Scrubbers, dan Upthane™.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membran bio-reactor [6].

 

 

Ketiga, Sebagai guru air, Belanda membuat inovasi teknologi purifikasi air yang mempekerjakan sekitar 2000 perusahaan di bidang air dan menyerap 80000 SDM untuk membantu pengelolaan air bersih di dunia. Proyek ini digarap oleh institusi akademis dan perusahaan di bidang industri. Salah satu institusi akademis yang berperan yakni Delft University of Technology (TU delft). TU delft telah mengembangkan adanya teknologi penangkap CO2 selama pengelolaan air limbah. Selain itu, universitas di hongkong yang terlibat proyek-proyek ini melakukan efek  pengujian air laut untuk pembilasan toilet terhadap  lingkungan. Teknologi ini tidak hanya memudahkan pemulihan kadar fosfat dan mengintegrasikan skala sistem yang lebih besar seperti pada sistem manajemen air di bandara.

Sementara itu, perusahaan swasta Belanda Waternet yang membantu dalam proyek ini bertugas menguji keefektifan pengolahan air limbah dari kertas dengan memisahkan zat selulosanya. Hal ini perlu diketahui karena Kertas toilet di sebagian besar wilayah dunia dibuang bersama-sama dengan air limbah ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Penelitian awal yang dilakukan oleh Waternet memberikan indikasi yang jelas bahwa tidak ada penurunan yang signifikan dalam sistem saluran pembuangan berlangsung. Selain memulihkan bahan baku, inovasi ini akan mengoptimalkan proses pemurnian  air limbah. Pada proses pemurnian air lainnya biaqua telah mengembangkan bio-nanotechnology yang selektif menghilangkan kadar fosfat di air. Teknologi ini berbasis ramah lingkungan sehingga dampak cemaran kimia sedikit berkurang.
Kultur bakteri pada proses Anammox [2].

Terakhir, Anammox technology merupakan Teknologi penghilangan ammonium yang dikembangkan oleh Delft University of Technology. Kata Anammox adalah singkatan dari Anaerobic Ammonium Oxidation  yang memanfaatkan mikroba penting untuk mengkonversi amonia menjadi gas nitrogen yang tidak berbahaya menggunakan sedikit aerasi. Secara biologis proses ini 30-50% berada di laut dimana nitrit dan amonium dikonversi secara langsung menjadi gas dinitrogen. Penggunaan lumpur aktif juga termasuk pada sistem Anammox ini, gabungan antara keduanya bertujuan agar penghilangan nitrogen terjadi secara efektif selama purifikasi aerobic. Keuntungan teknologi Anammox ini meliputi adanya efisiensi energi yang mencapai 60%, proses anammox juga dapat mengurangi emisi karbon dioksida sampai 90% dan pemanfaatan bakteri yang ada cukup terkontrol agar dapat mengantisipasi banyaknya lumpur aktif yang terbentuk.

Proses anammox ini pertamanya hanya digunakan pada air limbah di Belanda, namun langsung di adaptasi secara global dengan cepat. Hal tersebut di buktikan sejak Januari 2012, teknologi ini di adopsi oleh Austria, China, Jepang dan USA.  Hal tersebut dikarenakan Anammox dapat di aplikasikan pada berbagai arus air dengan konsentrasi amonia atau nitrogen organik yang tinggi di air limbah hasil industri kimia, industri makanan, dan kotoran hewan.

Demikian sang guru memberikan contoh tentang pengolahan air berdasarkan prinsip ekologi yang berbasis energi terbarukan. Tentunya, pengaturan pengelolaan air secara harmoni melibatkan masyarakat sebagai peran utama dalam menjalankan proses tersebut. Hal ini bukan dimaksudkan untuk membandingkan Indonesia dengan negeri kincir angin ini, namun menunjukkan bagaimana kita dapat berkaca pada negeri yang hampir seluruh daratannya berada di bawah permukaan laut dan bertahan karena kondisi tersebut.

Referensi:

1) http://www.noord-holland.nl/web/english-3/english/invest-in-noordholland/water.htm

2) http://en.wikipedia.org/wiki/anammox

3) http://www.biothane.com/en/biothane-technologies/anaerobic-wastewater-treatment/

4) http://www.hollandtrade.com/media/news/?bstnum=4889

5) http://www.lenntech.com/membrane-technology.htm

6)https://www.evides.nl/en/industrial/about/downloads/industrialdownloads/evides%20iw%20ch%20mbr%20eng.pdf

7) Mutiara, Arindina Azzahrawaani. 2011. Sejarah Perkembangan Perikanan Indonesia. Program Studi Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Jatinangor

8) Setiyono dan Satmoko Yudo. 2008. Potensi Pencemaran Dari Limbah Cair Industri Pengolahan Perikanan Di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Jurnal  Akuakultur Indonesia  vol. 4, no.2, 2008.

9)http://tudelft.nl/fileadmin/UD/MenC/Support/Internet/TU%20Website/TU%20Delft/Images/Actueel/Nieuws/2012/jan-feb-mrt/LKY_WP_2012_Anammox_Fact_Sheet_Final_070312.pdf

 

 

Advertisements