setelah maret

seakan ada batu yang mengganjal di kerongkongan

ada jarum pula yang kadang menusuk di bagian hati

rasanya darah itu mencoba keluar dari lubangnya

membuat rasa perih semakin parah

sampai sekarang mungkin aku telah lelah

terserah kamu.. kejarlah sesuatu yang ada di hatimu

aku tahu, karena aku juga wanita

pergilah dengannya dan mintalah maaf

sesungguhnya dia masih sayang dan kamu..

dirimu tak bisa memungkiri

aku saja yang mengalah walaupun memang…

tidak hanya sakit

mungkin setelah maret,

silahkan pergi, aku yakin kamu akan lebih bahagia…

terimakasih untuk selama ini, telah memberiku segalanya

lupakanlah segalanya dan biarkan hati kita yang membawa

*you who have the curly hair

the ashes at the first sight

 tanggal 14 februari yang katanya orang-orang valentine di hujani dengan hujan abu. Aku kaget ketika keluar waktu subuh dan melihat tanah di bawah sudah berwarna pucat tertutup abu. Sempat malamnya aku mendengarkan radio yang masih aku nyalakan pada pukul 3.00 dinihari bahwa gunung kelud meletus. Aku kira itu tidak berimbas sampai kota gudeg ini. Namun ternyata tak kusangka pukul 6.00 pagi rasanya masih seperti jam 5.00 pagi gelap dengan awan berwarna jingga keruh.

Ini adalah hujan abu pertama ketika aku besar. Petama saat aku masih bayi di tahun 1994. Saat aku tahu hujan abu gunung kelud ini rasanya takut kalau ada apa-apa. Kemarin waktu gempa aku juga merasakannya sendirian. Saat malam pun aku sampai tidak bisa tidur hanya karena takut kalau-kalau gempa lagi. Hujan abu kali kata mbak kosku termasuk deras dari pada hujan abu saat merapi meletus 2010 kemarin. Awalnya aku tidak merasa sesak ketika hujannya turun. Tapi lama-kelamaan di pernafasan terasa sesak juga. Bau belerang menyembul ketika aku membuka pintu sedikit saja. hari pertama aku tutup rapat-rapat kamarku. Namun, tetap saja debu bisa masuk melalui lubang angin-angin di atas jendela.

Hari pertama semua benda menjadi putih ke abu-abuan. Gang di kosku sudah seperti kota mati, kata teman-teman ‘silent hill of the ashes’. Bedanya jika di film itu putihnya karena salju tapi ini abu.  Sekali lagi aku menderita, cadangan beras di kos sudah habis gara-gara dimakan kutu. Terpaksa saat hujan abu aku keluar untuk mencari sesuap nasi, entah judulnya sudah seperti orang yang benar-benar kelaparan. Sendiri tentunya , karena temanku sudah ada cadangan makanan. Malam pun juga seperti itu aku masih keluar mencari makan sendiri pula.

hari kedua sudah agak mendingan dari kemarin. tapi tetap saja debu menyelimuti semua yang ada. tapi aku tak pernah kesal membersihkan kamarku. karena jika tidak hidung ini akan senantiasa bersin-bersin. ya bisa di bilang karena secuil debu habis tissue sewadahnya. walaupun sudah menggunakan masker tapi tetap saja hidung ini hiperaktif terhadap udara kotor., apalagi debu.menginjak hari ketiga hujan pun turun meluluhkan debu yang menempel di dedaunan pohon-pohon. cukup deras menurutku. senangnya akhirnya hujan turun saat malam hari menjadikan tidur semakin lelap.

Dari Surealisme ke Beasiswa

Waktu menunjukkan pukul 21.10 udara di sekitar mulai terasa menusuk daging tubuh melewati ruang kamar kecil yang berdinding bata dengan cat warna lusuh dan beratap pendek itu. Terlihat Seseorang dengan tubuh tinggi,berkulit langsat dan berambut ikal yang sedang sibuk menyelesaikan suatu pekerjaan di bawah lantai. Bergores-gores warna tebal-tipis pensil membentuk suatu pandangan tersendiri di kertas yang sedari tadi dihadapinya. Di sampingnya ada secangkir kopi ditemani seonggok kue coklat yang mulai habis dimakan empunya. Baru pukul segini masa Aku sudah ngantuk kata hati Rona. Tangannya lihai menapaki setiap senti dari kertas putih itu hingga terbentuk suatu pola sketsa yang rumit namun terlihat sangat eksotis. Akhirnya Rona pun mulai menyerah atas rasa kantuknya yang Dia tahan dari tadi. Paginya Rona segera membereskan pekerjaannya tadi malam untuk di bawa ke sekolah. Rona membawanya hati-hati ketika melewati jalanan becek. Sesampainya di kelas Dia ditanyai oleh teman-temannya. “Ron,kamu buat apa? Pasti keren”. Celetuk seorang anak laki-laki dari balik pintu “Oh, lihat aja nanti males buka .“ Jawab Rona singkat Tak lama kemudian bel berbunyi, suara khas sepatu Pak Fandy tak bisa di sembunyikan dari telinga murid-murid. “Selamat pagi.” Sapa Pak Fandy sudah sampai di depan kelas memakai baju batik kesukaannya “Selamat pagi Pak”. Serentak anak-anak menjawab “Oke, lukisannya dikumpulkan hari ini”. Kata Pak Fandy sudah duduk di kursi depan Deadline pengumpulan lukisan memang dijanjikan hari itu namun masih ada segelintir Anak yang belum selesai. Untungnya Rona sudah melemburnya tadi malam dengan agak terseok-seok oleh kantuknya. “Ron,tuh di panggil Pak Fandy”. Tiba-tiba Leva mengguncang tubuhnya yang tak sadarkan diri oleh rasa kantuk. “Oh,masak. Ehm iya pak”.kata Rona geragapan “Ini lukisannya Bapak bawa dulu ya. Walaupun lukisan teman-temanmu sudah Bapak kembalikan. Tapi besok akan Bapak bawa lagi kok”. Kata Pak Fandy serius. Jarang-jarang Pak Fandy berbicara seperti ini batin Rona. “Iya pak”. Rona mengangguk pelan lalu kembali ke bangku dengan wajah menerka-nerka. Cuaca sepulang sekolah kelihatan mendung dan berangin, Rona menapaki jalan menuju halte bersama Leva yang berkulit putih,berwajah tirus serta rambutnya sedikit berombak terjurai indah. Leva adalah salah satu murid cerdas di kelasnya serta berpengetahuan luas. “Ron,lukisanmu tadi bagus banget. Aku belum pernah lihat seperti itu secara nyata. Tapi Aku pernah melihatnya di.. dimana ya?”. Kata Leva “Ah, lupakan itu adalah hasil dari lemburanku semalam”. Jawab Rona singkat Akhirnya setelah jauh berjalan mereka duduk di halte dekat seorang Bapak Tua berbaju hitam dan berwajah ramah. “Kalian baru pulang ya?”. Tanya Bapak itu “Iya pak. Bapak di sini dari tadi?”. Kata Rona “Yah lumayan setengah jam yang lalu”. “Oh Iya aku ingat Ron, itu mirip dengan Salvador Dali. Kalau tidak salah kamu memepunyai gaya lukisan Surealisme”. Kata Leva memecah keheningan sesaat matanya berbinar ketika mengatakan itu. “Oya,wow. Seandainya aku bisa melukis lagi untuk biaya masuk perguruan tinggi negeri nanti itu lebih baik”. Kata Rona pandangannya setengah menerawang udara Bapak yang duduk di samping Rona terkesima dengan ucapan Leva tadi. “Benarkah nak Kamu pelukis gaya Surealisme?”. Tanya si bapak “Saya juga tidak tahu pak tapi apa yang ada di mimpi Saya selalu ingin diekspresikan”. “Apa yang Kau impikan dalam tidurmu nak?”. Bapak itu semakin penasaran “Mimpi? macam-macam tentunya,Saya tak ingat semuanya namun satu yang Saya ingat. Saya sering mimpi mendapatkan beasiswa untuk sekolah lagi dan itu hal yang sangat Saya cita-citakan”. Kata Rona menjabarkan Terlihat bus melaju ke arah mereka si Kondektur pun melambaikan tangan tanda bus akan berhenti. “Ini kartu nama Saya jika ada sesuatu lagi tentang ‘mimpi dan lukisan’ Kamu bisa konsultasi dengan Saya”. Ucap Bapak Tua sambil tersenyum memberikan kartu nama kepada Rona. “Terimaksih Pak”. Kata Rona dari dalam bus balas tersenyum di kartu itu Dia melihat tulisan Wahena di atasnya Wah’s Galery Kicauan burung tidak selaras dengan langit yang nampak suram berhiaskan mendung pucat diselimuti udara agak berkabut pagi itu.Rona menapakkan langkahnya dalam jalanan yang agak sepi dalam perjalanannya Ia bertanya dalam hati hari ini lukisanku dikembalikan, kira-kira apa ya komentar Pak Fandy hingga Dia berwajah serius seperti kemarin. Dia juga masih bingung kenapa Bapak Tua itu langsung tampak keheranan dan memberikan kartu nama padanya. Di kelas Leva tak kalah hebohnya mengembar-gemborkan bahwa Rona diam-diam mempunyai bakat lukis yang luar biasa. “…bayangkan saja ketika Aku cerita tentang lukisan Rona Bapak itu langsung memberikan kartu nama kepadanya dan lihat Pak Fa…”. cerita Leva pada segerombolan anak yang melingkarinya tiba-tiba ceritanya terpotong “Lev, udah deh. Aku bosan dengar cerita ini terus”. Kata Rona membalikkan tubuhnya sebal “Rona , Kamu dipanggil Pak Fandy ke kantor”.tiba-tiba kata Seorang murid dari luar “Aku? Oh iya”. Hatinya semakin tak karuan apa ada yang salah pikirnya. Sesampainya di ruang guru mata Rona terfokus pada bangku Pak Fandy.”Bapak memanggil Saya?”. Tanya Rona “Iya Ron, langsung saja. Bapak pikir kamu mempunyai gaya lukisan yang sangat rumit. Pertama Bapak mengira itu hanya gambaran biasa tapi setelah Bapak bawa pulang dan Ayah Bapak melihat bahwa lukisanmu itu bernyawa dan punya ke khasan tersendiri”. Cerita Pak Fandy “Lalu apa yang bisa Saya lakukan agar itu berkembang Pak? Saya juga merasakan hal tersendiri sebenarnya ketika membuat itu. Saya merasa sebagian dari beban Saya berkurang ketika mencurahkannya”. Jelas Rona “Kamu bisa kerumah Saya hari ini untuk bertemu dengan Ayah Saya jika Kamu mau”. “Baiklah Pak, Saya akan mencobanya. Terimakasih atas saran dan ceritanya Saya permisi dulu”. Ucap Rona mengakhiri Sesampainya di kelas Ia langsung di serbu Leva yang penuh penasaran pada garis wajahnya. “Nanti pulang sekolah Aku ajak ke rumahnya Pak Fandy ya. Mau konsultasi”. Kata Rona mencegah Leva sebelum Dia bertanya nerocos. Ruangan itu dipenuhi berbagai macam gaya lukisan yang tidak Rona ketahui. Mulai dari bentuk-bentuk geometri sampai ke bentuk abstrak dan Rona mulai mengenali semacam gaya aliran lukisanya. “Oh Kamu nak ternyata”. Terdengar suara ramah membangunkan kekaguman Rona ternyata suara ramah itu Pak Wahena yang merupakan Ayah dari Pak Fandy. “Rona ya, duduklah nak.Kamu sudah mendaftar untuk perguruan tinggi?”. “Belum, bukannya belum dimulai”. “Itu sudah dimulai jika Kamu mau melanjutkan melukis lagi. Lukisanmu berbakat nak, jangan sia-siakan peluang”. “Jadi Bapak ingin Saya mengembangkan bakat Saya?”. Kata Rona hati-hati “Bukan Aku yang ingin tapi dirimu yang memerlukan. Mendengar dari Anakku nilai eksakmu kurang memuaskan itu bisa membantumu dalam menggapai apa yang Kamu impikan”. sudah selama inikah Aku baru menyadari bakatku yang luar biasa? Tanya Rona dalam hati kali ini Aku harus berjuang demi impianku,demi ayah dan ibu pikirnya mantap. “Ya saya akan lakukan itu Pak”. Kata Rona menyetujui “Jika ada kesulitan kamu bisa hubungi Bapak . Oh ya, Kamu tidak keberatan kan kalau lukisan itu Bapak beli? Soalnya di sini sedikit yang Bapak punyai tentang gaya surealisme”. Tangannya sambil menunjuk berbagai lukisan di dinding “Apa,oh tentu boleh. Ibu akan senang mendengar ini”. Matanya berbinar hati rona pun tak karuan senangnya ibu akan senang lihat ini ibu akan senang dalam hati kecilnya. “Ron, makan dulu nak. Nanti capek lho”. Seru Ibu dari dapur “Iya Bu bentar lagi”. Jawab Rona yang masih asyik dengan lukisan-lukisannya. Warna-warna cat memberi corak pada ubinnya yang gelap,gulungan kanvas sudah seperti permadani yang lusuh di bawah. Rona membeli semua peralatan lukis itu dari hasil mengumpulkan uang selama 3 minggu. Lama memang, Ibu Rona hanya penjahit biasa dan Ayahnya menderita sakit lumpuh jadi Dia terbiasa hidup hemat. Tak terasa hujan berhari hari membawanya memasuki bulan mei berganti dengan hawa kering. Berminggu-minggu pula Dia menghabiskan waktunya dengan kuas,cat, dan kanvas yang beradu satu hingga tak ada waktu untuk bersama Leva seperti dulu. Leva pun menyadari akan kerenggangan ini, di waktu istirahat tiba mereka bertemu di bawah pohon Angsana di dekat sungai kecil. “Aku gak mau kehilangan sahabatku sejak kecil”. Kata Leva dingin “Apa maksudmu?”. tanya Rona heran “Apakah harus mengorbankan persahabatan Kita?”. Katanya masih mengacuhkan Rona “Sebentar,apakah semua ini berhubungan dengan lukisanku? Aku ingin membahagiakan orang tuaku Lev”. Jelasnya “Aku tahu kamu sedang berusaha untuk itu. Tapi apakah persahabatan Kita dari kecil yang menjadi tumbal”. Kini Dia membalikkan tubuh terlihat matanya mulai memerah “Tentu saja tidak Leva”. Rona mulai mendekati Leva dan langsung memeluk sahabatnya Rona bisa merasakan Leva sesenggukan Rona tanpa sadar bulir kecil air jatuh membasahi pipi Rona dan semaki lama semakin besar. “Maafkan Aku Lev,Aku terlalu ambisius akan semua ini tapi Aku harus memilih jalan ini Aku tak pandai sepertimu”. “Aku ingin Kita bisa bercerita bersama lagi dalam hal apapun,seperti dulu”. “Iya, mulai sekarang Aku akan berusaha agar Kita tetap bersama lagi”. “Aku juga siap membantumu kalau Kamu kesusahan dalam pelajaran. Ingat Kita itu sahabat dan Kau sudah seperti saudaraku sendiri”. Pelukan itu sudah memudar seiring ucapan Leva dan keduanya sama-sama tersenyum. Akhirnya dia memasuki Suasana SNMPTN bagi Rona semua orang berwajah serius namun itu tak begitu mengambil perhatian dirinya.aku harus bersungguh-sungguh mengerjakan ini demi beasiswa dan orang tuaku batinnya menegaskan. Leva sudah ujian sejak 2 hari yang lalu walaupun begitu mereka berdua sengaja memilih Panlok yang sama agar tetap bisa saling membantu. Leva yang cerdas memilih jurusan Kedokteran Gigi sementara itu Rona si seniman lebih menyukai jurusan Desain Interior kendati pun mereka berdua memilih perguruan tinggi yang sama. Sembari menunggu pengumuman SNMPTN yang lamanya satu bulan itu Rona mulai melukis lagi kali ini untuk membantu perekonomian keluarganya. Ayah Rona kini sudah bisa berdiri walaupun jalannya masih memakai kruk. Saat-saat mendebarkan pun tiba Rona dan Leva sudah berhadapan dengan laptop milik Leva siap untuk menekan tombol enter pada website. Dan jreng…tertuliskan hasil kelulusan Gerona Alvara Desain Interior kemudian disusul Levarian Jenova Sasmitoe Kedokteran Gigi. Mereka sesaat saling pandang tak percaya lalu berpelukan menangis saking bahagianya tanpa mengucap kata. Hatinya sungguh sangat bahagia Dia bisa mewujudakan impian meskipun itu berawal dari ketidaksengajaan surealismenya. Berawal dari Surealisme ke pencapaian beasiswa Perguruan Tinggi Negeri.