Japanese: Hiragana and Katakana

Hello world, in this moment i would like to write a post about japanese. First, we have to know the kanji’s word. In this below i will give some  list of hiragana and katakana’s word.  it’s time to write hiragana and katakana friend! 😀 make it easy…you have to try it !

 

  1. Hiragana

 

HIRAGANA’S LIST

A ka sa ta na
I ki si chi ni
U ku su tsu nu
E ke se te ne
O ko so to no
                   
ha ma ya ra wa
hi mi     ti    
fu mu yu ru wo
he me     re    
ho mo yo ro n
                   
ga za da ba pa
gi ji ji bi pi
gu zu zu bu pu
ge ze de be pe
go zo do bo po

 

  • Please Following the instruction, read in japanese and copy in your own book

あはた- spot

おはよ – good bye

あふく – foam

  • Please following the instruction, write with hiragana

Arashi – storm

Arare – hail

Asaru – looking

 

 

 

 

KATAKANA’S LIST

A ka sa ta na
I ki shi chi ni
U ku su tsu nu
E ke se te ne
O ko so to no
                   
ha ma ya ra wa
hi mi     ti    
fu mu yu ru wo
he me     re    
ho mo yo ro n
                   
ga za da ba pa
gi ji ji bi pi
gu zu zu bu pu
ge ze de be pe
go zo do bo po

 

  • Please Following the instruction, read in japanese and copy in your own book

アイロン- iron

アヌバ – amuba

  • Please following the instruction, write with hiragana

Arugeman-perjanjian

Aibori-gading

Aidea-gagasan

 

さて、多分それは私が書いただけだ。(Sate, tabun sore wa watashi ga kaita dakeda.)

さようなら。。。

drama itu nyata part 2

Hari-hari aku lewati dengan kesibukan di SMA hingga kami pun merasa rindu satu sama lain. Akhirnya kami mengadakan reuni kecil dengan datang ke SMA kami, siapa pun boleh ikut. Kami memusyawarahkan hari yang tepat itu lewat sms. Mungkin waktu itu ada yang belum punya facebook jadi susah kalau lewat grup di facebook. Ketika itu semua anak harus menshare kabar reuni itu. otak di balik acara itu adalah afra, ferisa dan aku.

Kebanyakan anak setuju akan acara tersebut tapi tak sedikit pula yang ada acara sendiri. Kami sudah memilih tanggal itu agar tidak bertabrakan dengan jadwal ujian kami dan ujian smp. alih-alih kalau sesudah ujian smp libur. Untuk itu kami telah memilih tanggal sebelum ujian smp maupun sma di mulai.

Akhirnya setelah jarkoman tersebar maka hanya 10 anak yang hadir dari 90 anak. Yaah, pikirku ciut. Kami tetap melakukan acara  tersebut. Sesampainya di smp semua anak saling peluk karena merasa rindu. Tak terkecuali mina, yah teman kita yang sering dikucilkan itu. aku masih merasa agak canggung ketika melihat sikapnya. Kini dia agak berbeda dari smp dulu. mungkin karena pergaulan di smk nya membawa dia bertindak beda. Dia masih sering ngebanyol, menasehatiku. Dia sering sekali mengomentari penampilanku yang menurutku dia suka. Tentang gaya rambutku, rokku yang sudah saatnya ganti tapi belum di ganti oleh ibu, gayaku bucara. Semuanya dia perhatikan. Mungkin itu yang membuatku risih, tapi dengan sikapnya itu adalah bentuk perhatian seorang teman padaku.

Dia sering cekcok dengan teman yang lain terutama ferisa. Tapi denganku dia baik baik saja. walaupun kadang aku marah ataupun sebal dengannya. Di hari itu kami berlima, ferisa, afra, aku, mina, dira dan mike sangat bahagia bisa berkumpul kembali sejak berbulan-bulan berpisah. Kami membicarakan tentang sekolah kami, organisasi yang diminati, memilih masuk ipa/ips, pacar kalau ada yang punya dll. Tapi aku aman karena aku tidak punya pacar dan gak mau punya sejak hari yang membuat aku membenci seseorang.  Tak ada dipikiranku untuk menyukai orang lagi, dan kubuang jauh-jauh rasa itu. aku ingin menikmati hidup bersama sahabat ku ini, walupun kita jarang bertemu. Tapi aku akan selalu rindu kalian.

 

Siang itu sedang ada pelajaran fisika oleh pak agung, beliau menjelaskan materi lalu memberi soal kepada kami. Tak lama setelah itu beliau ijin untuk keluar karena ada acara penting. Kami sekelas mengiyakan justru itu adalah bagian yang menyenangkan sebagai murid. Aku pun hanya tersenyum dan mulai menghadapi buku ku tadi. Ku coba satu soal dan kutemukan jawabannya, nomor 2, 3 dan 4. Akhhirnya selesai, pikirku. Aku kira semua anak sudah selesai dan siap untuk ditumpuk tapi ternyata mereka menungguku menyelesaikan soalnya baru menyontek. Aku menyerahkan buku ku pada teman sebangku ku saja, agar jawaban tidak menyebar terlalu banyak.

Setelah duapuluh menit, semua anak pun siap dengan jawabannya. Entah itu nyontek ataupun berusaha sendiri. Menurutku aku harus mencoba soal itu, kalaupun tidak bisa aku akan tanya kepada temanku yang jago. Mungkin ini akan berguna di masa depan, pikirku. Dengan kita mencoba sendiri berarti kita berlatih menyicil ujian. Jadi kalau mau ujian nasional atau snmptn kita sudah terbiasa mendiri dengan hasil kita.

Jawaban semua anak telah terkumpul menjadi tumpukan putih di meja. Si ketua kelas pun bertanya kepada seisi kelas apakah ada yang belum mengumpulkan. Dan semuanya menjawab “sudaaaaah…!”. suara mirip lebah. “ oke, aku bakal ngumpulin ini ke pak agung. Kalo masih ada yang telat bisa ngumpulin sendiri ke ruangan pak agung”. Kata sang ketua tegas

Sehabis itu semua anak lalu menggerombol dan saling bercerita seru. Ada kumpulan geng centil, anak-anak tomboy, dan si sudut ruang ada azizah yang pendiam sedang membaca sebuah novel. Aku bingung, lalu aku ngobrol saja sama teman sebangku ku namanya debi. Debi juga se smp denganku hanya aku tidak begitu akrab dengannya. Debi ternyata juga rindu masa-masa smp dulu. dia menyesal tidak ikut reuni kemarin.

Tiba-tiba dari samping kiri terlihat badan kurus anisa mendekati meja kami. Mukanya tegang sehingga dia terlihat lebih tua menurutku.

 “kalian udah tahu kabar?”. Tanya dia kepada aku dan debi.

“belum, kabar apa?”. Aku

“maaf jika kalian belum tahu, tapi aku juga tidak percaya ini terjadi..”. kalimatnya seakan terputus

“apa ? kabar apa?”. Tanya debi

“mina..mina meninggal”. Kata anisa

“gak mungkin, kenapa? Dia kan sehat-sehat aja”. Tanggap ku

“ternyata selama ini dia menderita kanker otak, penyakitnya sudah di derita sejak smp dulu. sejak sama kita…”. anisa duduk sambil memandangi kami berdua bergantian

“tapi dia tak pernah cerita…”. kata ku

“kalian akan pergi ke pemakamannya kapan?”. Taya debi

“pemakamannya sudah tadi malam. Aku juga tidak tahu, mungkin hari ini aku ke sana dengan afro”. Sahut anisa

“oke, makasih ya nisa kabarnya”. Kataku

“iya sama-sama. Aku balik ke mejaku lagi ya”. Kata dia

Aku tidak bisa menangis dalam waktu itu, seakan semuanya hanya mimpi. Entah pikiranku kemana, semua kebersamaan, kenangan, hal yang menyebalkan beradu dan membuat diam. Diam untuk menyadari ini kenyataan.

***

Baru beberapa hari setelah itu aku bisa menangis, membayangkan sikap ku dan teman lainnya seperti apa dulu. sontak waktu itu aku sms ke afra, ferisa, mike dan dira. Mereka sudah tau semuanya namun sama-sama sedang sibuk dan tidak tahu rumah mina. Akhirnya kami hanya mengirimkan doa kepada dia.

Hari-hari berlalu semenjak kepergian mina dari dunia untuk selamanya. Tiba-tiba hp ku bebunyi dan mendapati pesan singkat dari afra.

Berta, km mau ziarah ke makam mina gk?

Aku lalu menjawabnya

Sama siapa?

Kita aja, aku tahu rumahnya

Ya deh, aku mandi dulu ya

Oke, ke rumahku dulu ya

Dalam perjalanan ke rumah mina kami bercerita satu sama lain. Masih tidka percaya kalu itu kenyataan. Melihat jalan yang jauh dan terjal menuju jalan ke rumah mina. Aku jadi berpikir, betapa susahnya dia menempuh jalan untuk pergi ke sekolah. Afra juga bercerita tentang kejadian waktu mina akan terseret arus sungai, untungnya dia tersangkut di sebuah batu besar. Karena kala itu adalah musim hujan dan mina menempuh jalan yang ada sungainya agar cepat pergi ke sekolah. Betapa keras hidup ini, batinku.

Tak lama kemudian afra berhenti di depan sebuah rumah. Rumah itu dari kayu, bangunanya pendek dan halaman depan rumahnya hanya ada tumpukan kerikil-kerikil dari pecahan batu besar. Kami memberanikan diri untuk masuk ke rumah itu…

Seorang bapak setengah baya sedang duduk di hadapan kami. Beliau bercerita tentang mina. Ternyata hari ini adalah genap 40 hari ia meninggal. Kemudian kami ziarah ke makam mina yang tidak jauh dari rumahnya. Afra sangat ketakutan dan tidak percaya dia sedang di pemakaman sahabatnya. Aku tidak sanggup berkata apa-apa, pesan bapak tadi pagi. Jika aku tetap ingin menjadi sahabat mina, aku harus selalu mendoakan mina. Agar dia tenang di sana.

Gundukan tanah itu memulai kami menaburkan bunga dan harum-haruman di tanahnya. Tanah milik mina sekarang. Aku hanya diam dan hanya menanggapi obrolan dari bapak mina. Beliau berkata, jika sepulang sekolah mina selalu memecah batu di depan itu. memandikan adik-adiknya yang berjumlah 2 orang.  adik mina ada 3 orang dan salah satunya sudah sebesar mina, wajahnya sangatlah mirip dengannya. Mereka seperti anak kembar. Senyumannya dan raut wajahnya mirip sekali dengan mina saat ia berekspresi seperti itu. aku tersenyum dalam hati.

Ibu mina juga turut bercerita tentang anak sulungnya itu. mina selalu menjadi promotor dari teman-temannya. Ketika ada acara di smk nya selalu dia yang mengurusi semuanya.

“dia anak yang baik. selalu nurut sama orang tua dan rela berkorban demi adik-adiknya”. Kata ibunya sambil terisak

Aku dan afra berkaca-kaca dan sesekali afra mengusap mata dengan lengan bajunya. Sekakan air mataku tak bisa keluar dan kerongkonganku ada yang mengganjal. Tidak terasa sudah tiga jam kami berbincang-bincang dengan orang tua mina. Akhirnya kami pamit pulang. Bapak mina berpesan,

“anggap saja ini tetap rumah mina walupun dia sudah meninggal. Kalian masih bisa main ke sini sewaktu-waktu kalian rindu mina. Bapak juga akan menganggap kalian tetap teman mina walupun dia sudah tiada.

“iya pak. Terimakasih juga atas jamuannya dan ketersediannya”. Balas aku

“Hati-hati di jalan kalu begitu ya nak, terimakasih juga telah berziarah ke makam mina”.

“iya pak, assalamu’alaikum”. Kami berpamit

“wa’alaikum salam”. Jawab bapak dan ibu mina

Setelah hari itu, aku selalu mengenang mina kapanpu dan dimana pun aku berada. Sampai aku duduk di bangku kuliah seperti ini. Aku masih mengenangmu mina, maaf aku telah berprasangka dan bersikap acuh dulu kepadamu. Aku akan selalu mendoakan mu mina seperti saran bapak ku dulu. aku senan, walupun sudah duduk di bangku kulia ini aku masih  bisa mimpi ketemu mina, mina tersenyum kepadaku dan dia memakai baju putih panjang serta jilbab putih bersih. Mina datang dari jauh entah dari mana..aku percaya waktu di mimpi itu aku bertemu mina. Karena menurut buku yang aku baca ruh orang hidup dan meninggal bisa bertemu, di dunia mimpi. Mina tampak putih dan cantik bersih di mimpi. Senyuman itu khas milik mina. Aku tak sempat berbicara apa-apa pada dia, aku hanya membalas senyumannya.

Selamat jalan mina sahabatku.. cerita ini akan aku jadikan bahan belajar bahwa kita tidak seharusnya bersikap acuh bahkan pada orang yang jahat kepada kita. karena aku takut kehilangan orang-orang tersebut seperti kamu.

*nama-nama yang ada di samarkan namun inisial sama

Cerita ini buat mina sahabatku di dunia sana

 

Drama Itu Nyata

Suasana siang kala itu sangat terik karena aku bisa melihat fatamorgana ketika sepintas melihat tulisan SMP 1 KARAJEN di padang rumput. Anak-anak ramai berjalan menuju kantin sekolah, ada juga yang berjalan terbirit-birit dan berakhir di kamar mandi. kepalaku tersembul di antara banyak anak yang keluar dari kelas. Dan tak lama kemudian seorang gadis berkulit hitam dan berjilbab putih terlihat sangat mencolok di hadapanku bertanya ke arahku.

“ayo, jadi ke kantin gak ?”. tanya mina kepada yang lain.

“iya, bentar kamu duluan aja bareng temen-temen tuh”. Tunjukku ke gerombolan yang ada di depan. Dia mulia berjalan dengan mengisyaratkan kekecewaannya kepada aku dan teman-temanku yang lain.

“aku gak mau kemana-mana selalu diikutin dia”. Kataku kepada gerombolanku

“aku juga sih, tapi ya gimana dia ngikutin kita terus”. Kata ferisa

“ya udahlah, kita jadi makan kan?”. Potong afra

“iya deh yuk keburu masuk kelas lagi”. Kataku

Rasanya hari ini agak menyebalkan ketika mina tiba-tiba mengikuti kami berlima kemana-mana. Mulai dari ngajak ke kantin bareng sampai mengajak berkelompok bareng. Sebenarnya gak apa-apa Cuma anaknya agak lebay dan sedikit aneh menurut kami. Dia baik dan lucu, tapi kadang ada tingkah yang memalukan ketika menghadapi seseorang. Oleh karena itu kami sedikit tidak biasa ketika dia datang.

Tak lama kemudian bel berbunyi yang bertanda bahwa kelas masuk. Kami berlima pun cepat-cepat pergi dari kantin dan segera menuju ke kelas. Sebentar lagi akan di adakan ulangan fisika oleh pak joni ulangan ini adalah ulangan terakhir di semester 1. Menurutku dia seolah tak berniat mengajar kami karena jadwal yang padat sebagai guru ‘terbang’ membuatnya seakan tidak efektif menyampaikan materi. Sebentar di datang dan sebentar pergi dan tiba-tiba ulangan. Yah seperti hari ini…

Aku mengerjakan dengan seluruh logikaku saja dan yang diajarkan afra kepada aku. Otakku mulai jenuh setelah menjalankan semua otak-atik pada soal itu. ku pandangi semua anak mengerjakan dengan serius namun akau tak tahu mereka hanya pura-pura atau memang bisa.

***

Pagi ini tak ada matahari menyongsong aku berangkat sekolah, langit di atas berwarna abu-abu dan gerimis datang tak henti-hentinya. Aku memaksakan diri pergi ke sekolah walaupun hujan deras sekalipun dan kuusahakan aku datang tidak terlambat. Namun, orang tuaku menasihati agar menunggu sampai hujan reda. Kalau hujan reda kan artinya aku harus telat ke sekolah, dari pada telat mending aku tidak masuk sekalian, itu prinsipku.

Akhirnya aku datang ke sekolah dengan baju agak  basah dan rok yang basah pada bagian bawah.ketika berjalan melewati gerbang, menuruni undakan batu yang langsung menuju ke kelas. Pagi itu pelajaran bahasa inggris, seperti biasa kami berlatih membaca teks dan mengerjakan pertanyaannya. Bagiku ini pekerjaan yang agak membosankan ketika harus menjawab pertanyaan yang ada di teks bahasa inggris. Seperti ini saja masih ada yang bingung, memang ada pertanyaan yang jawabannya tersirat tapi untuk setingkat smp kan masih dasar pikirku.

Tak lama bel berbunyi satu kali tanda pergantian jam pelajaran. Tiba-tiba bu ani muncul dari atas undakan memasuki kelasku tak lupa dengan gayanya yang luwes dan santai. Dia mulia berdiri di depan kelas.

“anak-anak ibu hanya sebentar di sini untuk mengumumkan bahwa kalian harus mempersiapkan pentas seni pada saat perpisahan nanti. Terserah kalian apapun itu yang penting mengandung unsur yang mendidik. Baik anak-anak?”

“baik bu”. Jawab kami serentak

“ya sudah terimakasih karena ibu harus buru-buru jadi tidak bisa lama disini. Oke selamat siang”.

“siang bu”. Suara terdengar seperti kawanan lebah

Tidak terasa sepertinya baru saja bu ani datang ke kelas dan memberi tahu pengumuman akan di adakan pentas dari setiap kelas pada acara perpisahan. Tapi kini aku sudah duduk di bangku kelas satu sma semester satu. Entah semua obrolan, cerita-cerita di bangku SMP masih teringat segar di kepala ini. Ketika kami membenci salah satu anak perempuan yang bernama mina. Sekarang, kami berbeda sekolah dan tidak bisa bersama-sama lagi. Memulai adaptasi baru dari cerita, pelajaran, sifat dan kebiasaan, hal yang cukup membosankan.

Aku sendiri sekarang sering menyendiri hanya bermain dengan kuas, cat dan kertas A3 ku di depan jendela. Kadang juga aku hanya bercengkrama dengan buku-buku sekolah. Ibuku juga bingung mengapa aku berbeda sejak sma ini.

Ketika di depan jendela itu, tiba-tiba aku teringat sebuah drama saat perpisahan smp. kala itu aku, ferisa, dira, afra, riani, mike, dan mina sedang pentas drama. Drma atersebut menceritakan tentang kehidupan kami dari smp dan selepas smp yakni kuliah dan menjadi apa kami. Dalam drama itu, hanya mina yang tidak meneruskan kuliah dan bekerja untuk membantu menghidupi keluarganya. Semua kecuali dia bersekolah tinggi, aku menjadi seniman yang berkuliah di universitas favorit, afra menjadi dokter gigi, dira menjadi pengusaha, mike sukses di pertaniannya, riani ingin menjadi arsitek terkenal, dan ferisa menjadi accounting handal.

Waktu itu kami mengukir cita-cita kita masing-masing, dan terakhir aku mendengar kabar mina bersekolah di salah satu sekolah kejuruan negri di tempatnya. Aku dengar juga dia menjadi ketua pmr disana. Kadang mendengar semua itu, aku merasa bersalah sudah berprasangka kepadanya. Dia anak yang baik mungkin hanya bawaannya saja yang aneh, pkirku.

 sekian dulu ya, insyaAllah ceritanya bersambung…:)

Sibuk vs Diam tak bergerak

Hari-hari menjelang UAS sangatlah sibuk apalagi bagi yang tidak punya catatan pinjam sana pinjam sini. Tapi syukurnya aku mencatat setidaknya walaupun tidak selengkap omongan dosen. Akhir –akhir ini juga aku banyak malasnya, bangun pagi paling jam 4. Sekarang tidak pernah bangun jam 3 padahal besoknya UAS dan aku malah tidur. Sedangkan anak lainnya belajar semalam untuk besok. Entahlah, kenapa aku semalas ini. Aku takut kalau semuanya yang ada mengecewakanku. Aku juga sudah tidak sesibuk hari kemarin mengurusi acara dll. Semuanya telah usai dan mungkin semester depan aku sudah keluar dari organisasi ku ini. Entahlah, semuanya kadang membuatku kapok. Tapi, apakah yang akan terjadi kalau aku tidak bersosialisasi dan bergerak seperti di organisasi? Kadanga aku juga tidak mau hidup hanya di kos terus-menerus. Aku ingin bergerak melakukan sesuatu yang menjadi passionku. Aku ingin menemukan itu dan terus mengembangkannya. Tapi aku terlalu bayi..

Beberapa minggu ini aku banyak diam di kos, hanya membaca buku, melihat film, kalu tidak belajar. Hanya itu yang bisa aku lakukan, kalau tidak main bersama teman-temanku, dikampus lagi dan sudah. Semua orang juga bisa melakukan itu, pikirku kesal. Tapi aku ingin berepot-repot ria ketika hal ini datang. Memang ya, diam tidak berbuat itu memang capek dan buat apa jadi mahasiswa?? Ya, aku ingin mendapatkan arti mahasiswa yang sesungguhnya. Sebagai pelayanan kepada rakyat.. Tapi aku belum cukup mumpuni jika melakukan hidup dengan mereka. Aku harus ditempa dahulu dengan ilmu dan pengalaman. Inllah ujian dalam penempaan diriku. Aku tidak boleh malas lagi, masih banyak orang yang membutukan kita. Rakyat, dan bangsa ini. Sedikit perubahan bisa menjadi titik cerha bagi bangsa ini. Aku cinta indonesia, aku ingin memberimu secuil hasil tempaanku kepadamu.

Di lain sisi, ketika aku merepotkan diri dengan tugas kuliah, organisasi dan urusan tentang membuat suatu event. Aku merasa tak mampu, selalu mengeluh, tidak efektif sehingga timbul rasa putus asa dalam diri. Hal itu berujung pada penempaan yang tidak sempurna. Semua ini tentang tanggung jawab kepada negara, orang –orang terdekat, bapak-ibu, dan rakyat.