laporan ekologi perairan

EKOSISTEM SUNGAI

SABILA RAHMAWATI

12/334917/PN/12933

BUDIDAYA PERIKANAN

INTISARI

Praktikum ekologi perairan acara ekosistem sungai dilaksanakan pada tanggal 4 april 2013 pukul 13.30-17.00 wib di sungai tambak bayan. Lokasi pengamatan di bagi menjadi 4 stasiun pengamatan. Pada  masing-masing stasiun diukur beberapa parameter seperti parameter Kimia (pH, DO, CO2 bebas dan alkalinitas), parameter FISIKA (kecepatan arus dan suhu), dan parameter BIOLOGI (densitas dan diversitas plankton). Pengukuran parameter ini berguna dalam mengethaui pengrauh lingkungan terhadap populasi plaktin dan bentos. Cara pengukuran diambil dengan jalan mengambil sampel dari masing-masing stasiun secara acak. Berdasarkan hasil pengolahan data stasiun 3 yang paling baik karena mempunyai nilai diversitas planton dan diversitas bentos yang cukup tinggi. Nilai diversitas plankton sebesar 0.4098 dan diversitas bentos 0,9. Walaupun diversitas plankton stasiun 1 sebesar 0,9142 yang  lebih tinggi  dari stsiun 3. Secara keseluruhan perairan dalam kondisi baik dengan dilihat dengan berbagai parameter yang ada.

Kata kunci: densitas, diversitas, ekosistem, gastropoda, plankton.

Pendahuluan

Sungai merupakan salah satu sumber air tawar yang sangat penting  untuk kehidupan manusia. Karena, air di darat lebih sedikit dibandingkan dengan laut dan daratan itu sendiri. Sungai adalah sarana mempunyai manfaat yang penting seperti mudah didapat , Komponen yang penting dalam siklus hidrologi dan paling mudah dalam pembangunan tersier. Eksploitasi sungai ynag berlebihan mengganggu komponen di dalamnya. Oleh karena itu, pada praktikum ini salah satunya bertujuan untuk mengetahui kualitas air. Kualitas itu sendiri ditentukan oleh parameter fisik, kimia dan biologi.

Ekologi berasal dari bahasa yunani oikos: rumah dan logos: ilmu. Sehingga secara harfiah adalah ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup (Kristanto,2002). Ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosisitem perairan. Ekosistem perairan masih dibagi lagi mnejadi ekosistem air tawar dan air asin. Ekosistema air tawar selalau mengalami perubahan kualitas dan kuantitas akibat pengaruh faktor abiotik yang bervariasi (Sumaryam,2001). Ekosistem sungai mempunyai ciri aliran yang mengalir satu arah (dari hulu ke hilir). Organisme atau makhluk di sungai biasanya ikan, mikrofita, dan alga (Sudarjanti Dan Wijarni,2006). Menurut Sutrisno (2004), organisme yang ada  pada sungai yakni plankton yang termasuk di dalamnya fitoplankton atau zooplankton. Plankton hidup dengan mengapungkan diri di permukaan air. Nekton ialah Organisme yang  aktif di dalam air. Seperti Arfiati (2009), ekosistem air tawar di ikuti oleh organisme dari tingkat bawah sampai organisme tingkat atas.

Pada praktikum ini juga ada 4 tujuan yaitu mempelajari karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor pembatasnya, mempelajari cara-cara pengambilan data tolak ukur fisik, kimia dan biologi. Mempelajari juga korelasi antara beberapa tolak ukur lingkungan dengan komunitas biota perairan dan mempelajari kualitas perairan sungai berdasarkan indeks diversitas biota perairan.

Metodologi

Kegiatan praktikum ekologi perairan acara ekosistem sungai dilakukan pada hari kamis 4 april 2013 yang bertempat di sungai Tambak Bayan tepatnya pukul 13.30-17.00 WIB. Sungai yang menjadi lokasi ini masih terletak di kawasan Sleman-Yogyakarta. Adapun alat yang digunakan dirinci sebagai berikut bola tenis meja, stop wacth, roll meter, termometer, botol oksigen, erlenmeyer, gelas ukr, pipet tetes, pipet ukur, mikroburet, ember plastik, petersen grab, surber, plot kayu, sikat halus, kuas halus, saringan, mikroskop, kertas label, dan pensil. Kemudian bahan-bahan yang digunakan adalah kertas ph, ph meter, larutan MnSO4, larutan reagen oksigen, larutan H2SO4 pekat, larutan 1/80 na2so4, larutan KOH-KI, larutan 1/40 na2s2o3, larutan 1/44 naoh, larutan 1/50 h2so4, larutan 1/50 hcl, larutan indikator amilum, larutan mo, larutan pp, larutan indikator bcg, dan larutan 4% formalin.

Mekanisme praktikum ini dimulai dengan membagi perairan sungai menjadi beberapa stasiun pengamatan. Pada masing-masing staiun di ambil cuplikan makrobentos dengan cara menggunakan plot berukuran 40×40 cm. Plot digunakan untuk mengambil substrat di dasar. Substrat kasar seperti batu yang dimasukkan ke dalam tempat berisi air yang kemudian disikat perlahan lalu makrobentos ynag di dapat di pindahkan pada larutan formalin. Begitu pula denga substrat halus tapi sebelum dipindahkan sunstrat ini diletakkan di saringan bertingkat. Kemudian planton (makrobentos) diidentifikasi dan dihitung. Setelah data diambil maka dapat ditentukankeanekaragamannya denga rumus shannon-wiener H: –  ni: cacah individu suatu genus, N : cacah individu suatu genera. Pada masing-masning stasiun dilakukan pengukuran tolak ukur lingkungan fisik, kimia dan biologi.

Pembahasan

Pada praktikum ekologi perairan acara ekosistem sungai yang dilakukan disungai tambak bayan di bagi menjadi 4 stasiun pengamatan, stasiun pertama mempunyai topografi landai, sungainya berarus sedang dan mempunyai dasar berbatu/berkerikil dan bagian pinggirnya berpasir. Vegetasi yang ada di sungai tambak bayan sangat beragam mulai dari semak sampai pepohonan seperti pohon bambu, pohon pisang, dan salak. Sebagian besar vegetasi yang ada hampir sama namun pad abagia dasar sungai berbeda. stasiun kedua dasarnya berbatu dan mempunyai vegetasi semak dan pohon. Pada stasiun3 arusnya cukup deras dan topografi landai. Stasiun 4 memiliki arus yang terderas dari stasiun lainnya dan vegetasinya lebat.

Di keempat stasiun pengamatan dilakukan pngukuran do, co2 bebas, alkanitas, ph, kecepatan arus  sungai , suhun air, dan pengambilan sampel terhadap diversitas makrobentos menggunakan metode plot. Dari data yang tercatat dapat dihasilkan data sebagai berikut:

Data Hasil Pengamatan

Ekosistem Sungai

Golongan A-4

Lokasi Sungai Tambak Bayan, Yogyakarta

Kamis 4 April 2013

Parameter

Stasiun

I

II

III

IV

Fisik

 

 

 

 

   Suhu udara (°C)

23

29

26

   Suhu air (°C)

25.6

28.5

29

   Kecepatan arus (m/s )

1.1

0.69

0.58

11.28

   Debit (m3/s)

1.914

2.33

0.11

3.19

Kimia

   DO (ppm)

6.34

6.4

6.1

4.5

   CO2 (ppm)

11.2

7

7.4

7.6

   Alkalinitas (ppm)

62

33.2

76

134

   pH

7

7

7

7

Biologi

   Densitas plankton (idv/L)

377,5

132,5

245

1487,5

   Diversitas plankton

0.9142

0.3658

0.4098

0.2040

   Densitas Makrobentos (idv/m2)

44

256

69

56

   Diversitas Makrobentos

0

0.7

0.9

0.7

   Densitas Gastropoda (idv/m2)

0.06

381

25

36

Cuaca

Mendung

Hujan

Hujan

Hujan

Vegetasi

Semak bambu

Semak, pohon

Semak, pohon

Semak, pohon

Berdasarkan tabel di atas  ada satu parameter fisik yaitu suhu yang tidak terisi karena peralata yang ada dalam keadaan rusak sebelum digunakan. suhu stasiun 2 paling rendah dari pada stasiun 3 dan 4. Hal ini bisa terjadi karena pengaruh hujan yang dapat menyebabkan udara dingin. Sedangkan suhu airnya ada yang lebih tinggi dari suhu udara seperti yang terjaid pada stasiun 2 dan 4. Perbedaan ini dipengaruhi oleh panas matahari yang masih tresimpan pada air . kecepatan arus pada masing-masing stasiun disebabkan oleh topografi sungai. Selain parameter fisik ada keterkaitan antara parameter biologi dengan kimia. Pada tabel stasiun 1 paling mencolok yakni kadar co2 bebas yang tinggi dapat menyebabkan diversitas yang rendah.

Seperti yang sudah dikemukakan di depan suhu air dan suhu udara pada setiap stasiun relatif sama kecuali stasiun 1. Faktor eksternal yang mempengaruhi berperan dalam perubahan suhu ini seperti curah hujan dan mendung. Nilai tersebut dapat dipengaruhi faktor seperti awan, kedalaman air, dan aliran air. Selain itu suhu air sangat berpengaruh pada jumlah oksigen terlarut dalam air.

Dari data/grafik dapat langsung di lihat bahwa kecepatan terbesar ada pada stasiun 4. Dalam diskripsi stasiun kelompok 4 termasuk landai topografinya. Laju aliran perlahan menurun pada ketinggian yang lebih rendah dan volume air meningkat sampai arus yang cepat menjadi tenang (Mc naughton,1998).  Kecepatan arusdan debit air akan mempengaruhi keberadaan plankton karena plankton bergerak dengan cara mengikuti arus (wibisono,2005). Pada stsiun 4 kecepatan kondisi dasar yang berbatu dapat mengakibatkan arus menjadi deras.

Berikutnya adalah parameter kimia yakni do (dissolve oxygen) dibandingkan oleh stasiun 4, di stasiun 1 dan 2 relatif sama sedangkan stasiun 4 mempunyai kadar do paling rendah. Perbedaan tinggi rendahnya kadar do berpengaruh pada densitas dan diversitas plankton serta makrobentosnya. Kenaikan kandungan do di duga karena selama perjalanan air dari hulu ke hilir banyak menerima limbah buangan. Kandungan do pada stsiun 4 bisa kurang menguntungkan biota yang ada di dalamnya.karena kurang memenuhi standar yakni 6,00 mg/l  (sukadi,1999).

Parameter kimia selanjutnya adalah kandungan c02 pada tiap-tiap stasiun. Kandungan co2 tertinggi berada di stasiun 1 dan kandungan c02 pada stasiun 2,3, dan 4 relatfi sama. Perbedaan mencolok ini bisadi sebabkan karena pada stsiun 1 berdekatan jaraknyadengan rumah makan yang bisa menjadi tempat membuang sampah ataupun bahan organik lainnya. Jika dibandingkan dengan stasiun 2 kandungan co2 bebasa lebih rendah dari stasiun 1 hal ini membuktikan stasiun 2 lebih baik dari stasiun 1. Terbukti dengan adanya kolam ikan (budidaya ikan) pada stasiun 2. Nilai co2 dapat mempengaruhi nilai pH sautu perairan.

Alkalinitas  pada keempat stasiun besarnya fluktuatif. Alkalinitas terendah ada pada stasiun  2 dan alkalinitas tertinggi terjadi di stasiun 4. Alkalinitas yang rendah dapat mengimbangi adanya kadar CO2 yang tinggi. Sebab CO2 yang tinggi bisa menaikkan pH air. Akalinitas dipengaruhi oleh konsentrasi ion Co3, konsentrasi basa dalam air, NaCl, dan Na2CO2. Pada air tawar yang normal mempunyai alkalinitas 40 ppm, tapi nilai rangenya berkisar antara 20-30 ppm (Van Wyk Dan Scarpa,1999).

Berdasarkan grafik pH per stasiun di atas harga ph tiap-tiap stasiun relatif sama jika berbeda pun selisihnya sedikit. Kondisi ini berarti perairan sungai pada stasiun 1,2,3, dan 4 cukup baik. ph iar diukur karena banyak seidkitnya ion (H+) yang terkandung pada air. Semakin banyak kandungan ion hidrogen semakinasam sifatnya. Sebaliknya apabila kandungan (H+) nya sedikit maka bersifat basa. Peningkatan 1 Ph pada air akan menngkatakan kadar amonia 10 kali lipat.

Parameter yang terkahir adala parameter biologi yang meliputu densitasa plankton. Kepadatan plankton terjadi pada stasiun 4 yang tertinggi sedangkan pada stasiun 1,2, dan 3 densitas relatif rendah. Densitas yang tinggi pada stsiun 4 disebabkan oleh kecepatan arus air sungai. Semakin cepat arus sungai tersebut semakin tinggi kecepatan plantonny. Plankton mempunyai daya gerak pasif yang distibusinya di pengaruhi oleh daya gerak air seperti arus dan lainnya (suin,2002). Selain itu, kekeruhan air juga mempengaruhi kepadatan plankton. Kelompok fitoplankton yang  mendominasi  perairan tawar terdiri dari diatom dan ganggang hijau-biru.

Parameter biologi terakhir adalah diversitas plankton dan makrobentos. Diversitas terendah plankton trejadi pada stasiun 1 dan tertinggi pada stasiun 3. Disamping itu, diversitas makrobentos tertinggi pada stsiun 1 dan terendah pada stsiun 4. apabila Nilai diversitas makrobentos pada stasiun 1 mendekai 1  berati di dalam komunitas terpadat spesies yang mendominasi spesies lainnya sebaliknya jika nilainya mendekati 0 maka tidak ada spesies yang mendominasi semakin ekstrim (basmi,2000). Faktor utama yang mempengaruhi organismekarena adanya konversi lahan mangrove menjadi lahan, pencemaran kimia dan organik serta perubahan iklim (widodo,1997).

Berdasarkan ulasan grafik dari parameter fisik, kimia, dan biologi di atas dapat dilihat bahwa stasiun 1 paling tinggi diversitas planktonnya ari pada stsiun lain. Sementara itu,untuk diversitas mekrobentos yang paling tinggi berada pada stasiun 3. Di Stasiun 1 ada beberpa macam spesies plankton seperti clorella sp, synedra sp, dan strauratum sp. Untuk macam spesiesnya yang makrobentos ada melanoides sp. Pada stasiun 2 jenis planktonnya sama dengan stasiun 1 sedangkanuntuk macam makrobentosnya lebih banyak yakni ada melanoides sp, pecten sp, dan parathelpusa sp. Selanjutnya stasiun 3 mempunyai jenis plankton ynag lebih bervariasi seperti jenis clorella sp. Chroococcus sp, leuvina sp, synedra sp, meloaira granulata, dan pinnularia nobilis sedangkan macam makrobentos yang ada melanoides sp dan pecten sp. Pada stasiun 4 spesies planktonnya hanya ada clorella sp dan synedra sp. Sedangkan spesies makrobentosnya ada Pilla ampulaceae dan Melanoides sp. Faktor yang menyebabkan tingginya diversitas stasiun 3 adalah kandungan unsur hara yang terdapat pada perairan tersebut. Selain itu, kecepatan arus pada stasiun ini relatif lambat, kadar do juga rendah atau masih standar  kadar co2 bebas juga begitu cukup standr dengan rentang co2 bebas 2 mg/l-12 mg/l. Alkalinitas pada stasiun ini juga sedang yakni pada skala 76 ppm.

Kesimpulan

Dari pembahasan serya pengolahan data dapat disimpulkan sungai tambak bayan bisa menjadi tempat hidup makrobentos dan plankton. Walaupun, keanekaragaman dan kerapatannya berbeda. sungai ini memiliki karakteristik dari dasar berbatu sampai berpasir, topografinya cukup landai, ada bagian ynag berarus deras dan berarus sedang. Pada acara ekosistem sungai juga dipelajariparameter fisik (kecepatan air sungai,  suhu air sungai dan debit air), parenetr kimia (ph, do , co2 bebas dan akalinitas), dan parameter biologi (densitas dan diversitas makrobentos dan plankton). Kemudian juga hubungan antara lingkungan sangat berpengaruh terhadap populasi makorbentos. Plankton dan makrobentos sangat peka terhadap pencemaran atua kandungan bahan organikdan anorganik. Berdasarkan indeks diversitas diperoleh bahwa sungai tambak bayan mempunyai kualitas perairan yang cukup baik untuk kehidupan makrobentos.

Saran

Pada pelaksanaan praktikum ini sudah baik tapi mengenai kondisi sungai di tambak bayan masih ada pembuangan limbah ke sungai tersebut. Sehingga, dapat dijadikan tolak ukur tingkat pencemaran. Secara relatif kondisi sungai di tambak bayan sudah baik hanya pada beberapa stasiun saja yang terdapat pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, perlu diadakan praktikum ekologi perairan acara sungai.

Daftar pustaka

Arfiati, diana. 2009. Strategi peningkatan kualitas sumber daya pada ekosistem perairan air tawar. Malang. Universitas  Brawijaya

Basmi, hj. 2009. Planktonologi: plankton sebagai indikator kualiatas perairan. Bogor.ipb

Kristanto, philip.2002. ekologi industri:LPPM.surabaya.universitas kristen petra

Mc naughton.1998.ekologi umum edisi ke 2.yogyakarta.ugm press

Subarjanti.2006. keanekaragaman dan kemelimpahan makrobentos.jakarta.erlangga

Sun, nm.2002.metode ekologi. Padang. Universitas andalas.

Sukardi,k.1999. pengantar ekologi.bandung.pt. remaja rosda karya

Sumaryam.2001.susunan dan macam ekosistem.jakarta.djambatan

Sutrisno dan suciastuti.2004. studi ekologi perairan.jakarta.kanisius.

Van wyk p and john scarpa.1999.water quality requirtments and management.chapter 8. London

Wibisono,k.2005. fisiologi hewan.semarang. universitas negeri semarang.

Widodo,j.1997.biodiversitas sumber daya perikanan laut peranannya dalam pengelolaan terpadu wilayah pantai. Dalam: mallawa,a.r.syam, n.naamin, s.nurhakim, e.s. kartamihardja, a. Poernomo dan rahmansyah. Prosiding simposium perikanan indonesia II, ujung pandang, 2-3 desember 1997. Penyelenggara: universitas hassnudin, japan internasional coorporation agency, ikatan sajana perikanan indonesia dan himapikani.

Advertisements