Tempe ayam adu gepuk (hahaha)

Bahan:

tempe 1 papan, ayam secukupnya (terserah), garam, bawang putih , bawang merah, lada, seledri, tepung bumbu ayam goreng, telur 1 , royco 1

cara:

-haluskan bumbu garam, bawang merah dan putih, lada

-iris ayam kecil-kecil (kecil banget). Setelah itu campur bumbu dan ayam di gepuk agar tekstur lebih halus.

Рkemudian  tempe di lumatkan satu tempat dengan ayam dan bumbu tadi. sebaiknya tempe daun agar tidak terlalu lembek.

-setelah adonan jadi, adonan di bentuk sesuai keinginan. Jika ingin lebih garing dibuat bentuknya tipis.

-selanjutnya ambil telur buang bagian kuningnya, jadi hanya putihnya saja.

-taruh tepung bumbu sajiku ayam goreng di tempat berbeda.

-setelah semua adonan tadi udah di bentuk masukkan satu-persatu ke dalam telur lalu ke tepung dan goreng. Begitu seterusnya tunggu sampai kuning kecoklatan.

NB: di coba dikit dulu aja nanti kalo gak enak ūüėÄ

2013-07-27 16.50.24

Langit Biru, Lapangan, Nisan Dan Kuas

Langit di atas masih berwarna jingga gelap bercampur biru. Kala itu aku sedang dalam perjalanan hendak pulang kerumah dari masjid. Aku berjalan sendiri menyusuri lorong-lorong waktu masa lalu. Aku masih ingat ketika itu, sama seperti di saat senja ini. Aku masih bisa merasakan pusaran waktu sekarang membawaku ke masa lalu yang tak bisa dilupakan.

Aku masih ingat ketika aku menatap langit senja setelah aku pulang dari  masjid. Aku merasa tenang di hati, Tuhan telah menganugrahkan semuanya padaku dengan lengkap. Walaupun keluargaku tergolong sederhana aku tetap merasa tercukupi secara ekonomi dan kasih sayang. Orang tuaku hanya pedagang makanan biasa di rumah. Aku masih SMA kala itu.. Semuanya berubah dengan cepat dan tanpa ku sadari. Dulu aku masih sering mengaji ketika di masjid walaupun itu hanya seorang diri, kulakukan karena aku tak bisa melakukan apapun. Hanya do’a yang bisa ku panjatkan kepada-Nya. Di sekolah pun aku merasa ada malaikat yang membuatku tenang ketika menuntut ilmu. Aku jadi tenang sehingga mudah menerima ilmu yang diberikan guru.

Aku juga melihat rumput-rumput di lapangan depan rumahku sudah tinggi-tinggi.di pinggir bagian utara juga sudah ditumbuhi 4 pohon talok. Aku tak bisa lagi melihat langit luas dari depan pintu ketika melihat indahnya sore yang cerah.  Dulu lapangan itu setiap sore digunakan untuk  bermain sepak bola oleh remaja di desaku. Dan aku masih bisa melihat langit luas berwarna biru cerah di atas gunung lawu. Ramai sekali apalagi kalau pas acara agustusan. Ibuku bisa laris warungnya dengan berdagangan es. Ada seorang temanku yang dekat denganku dulu yang juga sering bermain sepak bola di lapangan itu.

Ketika kulihat jalan menuju rumah pun kini baru selesai di aspal lagi. Dulu jalan ini tak separah ini dan masih halus untuk di lewati. Suara kakiku terdengar sangat berisik saat aku menapaki jalan yang baru ini. Aku tersenyum sembari jalan perlahan dengan melihat sekitar.

Dulu aku sering termotivasi dengan arah jalan menuju rumahku. Jalan itu hanya mempunyai satu belokan dan jika aku sudah berbelok kudapati langit tinggi di depan yang luas. Aku sering menganalogikan awan yang berwarna jingga di depan itu adalah cita-citaku. Sedangkan jalan yang kulewati setiap hari adalah jalanku menuju asa itu. Dan batu-batu kecil itu bisa membuatku tersandung apabila aku tak berhati-hati terhadapnya. Walaupun hanya begitu aku cukup terdorong ketika aku tak bersemangat.

Aku rinduu ternyata dengan masa lalu… Jika bisa aku ingin kembali ke sana sejenak lalu¬† kembali lagi di waktu ini. Aku rindu dengan langit biru dimana aku berangan-angan jauh. Aku rindu saat dia menatapku dan tersenyum dari lapangan sambil hujan-hujanan (kasihan ya, tapi biarin aja biar aku senang hihi). Aku rindu rumput lapangan yang sering kugunakan untuk bermain dengan temanku. Aku rindu… Andai ada alat yang bisa membawa ke masa lalu sejenak.

Aku tahu masa lalu hanya bisa di kenang dan dijadikan tolak ukur perbandingan dengan masa depan. Aku cukup mengerti tentang ini. Tapi.. Masa lalu bisa menjadikan kita lebih rendah hati terhadap apa yang terjadi di masa kini. Kini aku sudah berkuliah di universitas yang bergengsi di indonesia dan nomor 1 di negaraku. Aku sangat bahagia tentunya. Tapi semua ini tak akan mengubah dan melupakan kenangaanime_girl_playing_violin_by_lamienthana-d5rc8apnku di masa lalu.

Ketika sahabatku muslimat meninggal pun aku masih ingat. Aku masih kelas 1 SMA waktu itu, dan aku tak percaya. Namun takdir  memang tidak salah. Ia telah meninggal karena kanker otak yang tidak di sadarinya. Dia selalu mimisan ketika kami masih duduk di bangku SMP. Tapi aku dan sahabatku yang lain mengacuhkannya. Aku menyesal telah menyuekkannya dan menganggap dia anak aneh. Padahal dialah yang berhati besar untuk keluarganya. Dia termasuk sahabat terbaikku diantara sahabat-sahabtku yang lain.

Kemudian waktu itu aku ajak temanku menuju rumahnya dan berziarah ke pemakamannya. Temanku tak sanggup dan tak percaya melihat batu nisan itu atas nama dia. Bahwa di bawah gundukan tanah yang gembur itu ada jasad sahabatku, muslimat. Ayah dan ibu muslimat pun tak kuasa menahan air mata mereka ketika bercerita tentang anak sulungnya. Kami pun semakin sedih dan juga tak tahan menahan buliran air di sudut mata.

Lalu bayangan tentang muslimat hilang berganti dengan gambar cat air dan kertas A3 di depan jendela. Aku sering berlatih melukis di sana.. Menghabiskan waktu luang di depan jendela hanya untuk melukis pohon. Aku suka melukis, apalagi kalau gradasi warna. Meskipun itu lama untukku tapi aku sangat menyukainya dan teliti dalam menyatukan warna yang kontras. Aku  belum bisa melukis sempurna tapi aku ingin berusaha melukis seperti  temanku yang pandai dalam hal menggambar.

Perspektif semarak dalam bulan ramadhan

ramadhan-in-the-sky 

Hari ini sudah mulai puasa ramadhan. Aku bahagia bulan yang ku nantikan sudah tiba. Tapi ada yang kurang dengan ramadhan tahun ini. Aku merasa kesepian karena teman-temanku belum banyak yang pulang. Apalagi yang kerja, aku sangat kesepian. Hanya dirumah dengan adikku dan tugas-tugas dari non akademik. Entah mengapa seharusnya semarak ramadhan itu tidak hanya berasal dari keramaian saja ya. Tapi kali ini orang-orang mengaji sungguh sepi. Tak seperti tahun sebelumnya yang ramai sana sini terdengar suara  mengaji. Sampai-sampai jika di dengar seperti orang lomba mengaji.

Aku takut jika aku masih hidup ketika hari kiamat datang. Aku tak ingin menjadi orang yang merugi ya allah. Aku juga takut jika keadaan ini semakin tambah tahun semakin parah. Dimana agama hanya dijadikan status, sholat dan puasa hanya untuk gengsi semata. Banyak orang yang mengagungkan masjid tapi tak dipakai. Aku tahu, aku bukanlah ahli ibadah ataupun ahli dalam mengetahui agama. Tapi aku punya rasa kasihan terhadap hidup ini.

Aku juga bukanlah seseorang yang berperilaku sempurna dan mengamalkan setiap perintah tuhanku. Namun aku mencoba memahami semua ini dengan hati agar aku bertambah imannya. Ramadhan kali ini semoga bukanlah ramadhan terakhirku.  Aku tahu masih ada banyak beban di pundakku yang harus aku selesaikan. Salah satunya melihat orang tuaku bangga akan diriku yang biasa ini. Bukan bermaksud  merendahkan tapi aku memang cukup biasa jika dibandingkan teman-teman yang lain.

Malam ini sayangnya aku belum bisa melaksanakan sahur pertama di bulan ramadhan ini. Tak apalah yang penting makna ramadhan tahun ini aku dapat. Semoga waktu teman-temanku pulang nanti akan bertambah semarak masjid yang ada di desaku. 

 

Senja yang Egois

ketika senja datang aku selalu berbayang

saat aku menhanyutkan surat ini ke laut lepas

menerjang ombak dan membawa ke daratan asing

aku ingin…

dia datang padamu

memberikan sedikit penjelasan tak berarti dari masa lalu

ku bayangkan lagi jika dia tak datang padamu

ketika rona jingga memudar di angkasa

ku lihat jauh pulaumu tertutup kabut

membatasi kita dan sudut pandang ini

hai kamu yang jauh di sana

lihatlah ada sahabat yang aneh di sini

berkata tentang kehidupan,

namun ada udang di balik batu

tak merasakah kamu?

sungguh senja terasa cepat ketika datang angan ini

dan kamu yang di sana?

masih seperti dulu dan biasa