Kasihanilah mereka…

Pada suatu siang aku berjalan hendak mencari makan siang untuk perutku yang sedang ‘dangdutan’. Akhirnya aku berhenti di salah satu warung makan yang tidak jauh dari kos-kosanku. Di warung itu tresedia berbagai macam dari ayam dan ikan. Segera saja aku memilih  mangut lele tanpa nasi dan pedas. Karena kala itu aku sudah menanak nasi di magic jar-ku. Aku menunggu lama atas pesananku yang hanya satu jenis tadi. Yah.. Padahal yang beli dan makan di sana hanya 4 orang saja. Aku menunggu sembari melihat-lihat foto adikku yang masih 2 tahun.

Aku mulai melihat dengan tersenyum-senyum sendiri. Aku merasa ingin pulang ketika itu, tapi aku measih mempunyai tangging jawab di sini untuk kuliah. Agak lama dari jarak aku pesan makanan,  tiba-tiba ada bapak-bapak tua yang bisa di bilang mengamen di depan pintu. Dan kebetulan aku duduk persis di depan  pintu itu. Perasaan malu, bingung, iba dan tak tega mencampuri kepalaku. Malu karena aku hanya diam dan tak memberi dia apa-apa. Sementara aku membawa uang 10 ribu rupiah yang juga kebetulan tidak receh. Jika aku berikan uang ini kepada bapak itu, aku membayar pakai apa atas makanan yang sudah aku pesan. Jika tidak betapa malunya aku sebagai mahasiswa yang katanya memberi perubahan dan mengayomi masyarakat kecil. Aku ini orang terdidik seharusnya aku lebih peka terhadap lingkungan dan kondisi sosial.

Sebenarnya dalam hati kecil aku tak tega melihat bapak itu terlalu lama berdiri di depan pintu sambil memegang 3 gendang  kecilnya. Raut wajahnya sangat sayu dan seolah semua beban ada tergores lewat lekukan kulitnya. Pakaian bapak itu lusuh dan sangat biasa. Aku tak tega.. Aku tak tega .. Jerit hati kecilku. Tapi , aku juga bingung dengan kondisi seperti ini. Tak lama kemudian setelah perang batin atas perasaanku sendiri penjual makanan di warung itu ke depan sambil menjulurkan tangannya ke bapak itu. Dan bapak tua segera pergi,  sejenak aku bersyukur setidaknya masih ada orang yang memberi. Perasaanku langsung lega.

Selain cerita tadi, ada lagi cerita yang sering ku temui  saat aku berangkat ke kampus. Kebetulan aku selalu lewat belakang kampus karena kos-kosanku tak jauh dari kampus. Setiap aku berangkat pagi maupun siang, aku selalu menemukan bapak tua yang duduk di depan gerbang jalan menuju ke kampus. Bapak itu selalu menengadahkan tangannya ke atas tanda ingin di beri. Setiap hari.. Dia selalu di situ. Ingin tahu bercampur bingung selalu ada ketika aku berhadapan dengan orang seperti itu.  mengapa bapak itu selalu di situ? Aku tahu dia mencari rezeki tapi tak adakah keluarga yang mengurusinya? Aku takut jika itu hanya jebakan, bukan aku berpikir yang negatif tentang keadaan ini. Tapi entah mengepa aku curiga, seperti slogan yang ada di jogja “mengasihi bukan berarti memberi”. Apa kita tidak boleh memberi maksudnya? Jika memang mereka membutuhkan apa kita harus diam saja. jika kita mengasihani orang-orang seperti itu dan kita di suruh memberikan pada lembaga, bukankah sudah banyak? Disamping itu, tak sedikit rezeki yang di berikan pada suatu lembaga malah di korupsi oleh pihak-pihak tertentu.

Tapi bagaimanapun juga mereka hanya ingin mencari rezeki seperti yang lainnya. aku memenag tidak bisa memberi terus menerus tapi akan ku usahakan jika ada rezeki akan ku sisihkan sedikit  untuk mereka.  Karena rezeki yang aku dapat juga ada bagian mereka di dalamnya.

Advertisements