Beragumen: Satu frekuensi

Setiap waktu, entah kapan pasti kita punya teman baru. Teman yang benar-benar baru yang datang dari berbagai usia, latarbelakang dan pemikiran. Buatku, sebenarnya berkenalan itu nggak cukup hanya tau nama, asal darimana, anak siapa, lulusan apa dan dimana. Lebih dari itu. Aku lebih senang kalau berkenalan nggak hanya tahu nama dan segenap basa-basinya. Lagipula kalau hanya tahu nama kita bisa dengar namanya pas dipanggil temennya kan? Ya, aku memang terkesan sombong. Kecuali, orang itu tiba-tiba ada di depanku dan nggak sempat memperhatikannya dulu.

Banyaknya teman-teman baru ini jelas jadi pekerjaan rumah, buatku. Kenapa bisa? Aku ingin (selalu) mencari teman yang satu frekuensi. Menurutku mereka bisa menyehatkan mentalku selain berada di ruang privasiku. Iya, aku bocah introvert yang kata banyak orang tertutup itu. Frekuensi adalah salah satu kunci mendapatkan hubungan pertemanan yang berkualitas. Yang menyehatkan, mendukung dan berbagi energi positif. Gimana bisa tahu? Gampang, dimana dirimu nyaman berbincang dan nyambung sama mereka, itu. At least, kamu dapat energi positif dari mereka.

Berada di lingkungan yang nggak satu frekuensi jelas buat kamu jadi pribadi yang mudah depresi atau penuh suasana negatif. Yang sensitif bisa semakin menjadi-jadi kebaperannya, yang cuek-cuek aja malah jadi salah paham. Runyamlah. Tapi, kalau itu ada di lingkungan kerja, ya kadang harus ada trik-trik khusus. Baiknya, memang perlu diimbangi dengan kawan yang satu frekuensi tadi.

Walaupun ya, belum dapet juga sih.

Aku pernah baca di satu artikel,”yang satu frekuensi akan mendekat”. Dan aku percaya. Mungkin di awal belum keliatan kalau di sekitar ada. Kebalikannya juga, yang dipikir dekat, rame, enak diajak cuap-cuap tapi ternyata “rasa” di hati kita nggak klik sebenarnya. Ada.

Rumit yha. Memang

 

Advertisements

Kilas balik

Ratusan kilometer menghadang pandang

Hanya ada ruang

Tanpa sepatah kata untuk mengundang

Kubuka tirai untuk sedikit menengok

Ke padang jalang

Ternyata kau sudah sejauh ini dipandang

Bersama dia yang tersayang

Selamat, bayang

 

Menyamakan

Rumah baru yang kutinggali setelah bertolak dari yogya adalah Denpasar. Kota yang dipandangan banyak orang panas, ramai, membahagiakan dan santai seperti holiday. aku sebaliknya, merasa tidak nyaman jika setiap hari serasa di kerumuni banyak manusia. Terlalu banyak, manusia dan ocehan-ocehan ringan pengisi riuh ditengah hiruknya pekerjaan. belum lagi ternyata harus berhadapan dengan kenyataan untuk tinggal berdua di dalam satu kamar. entah berapa lama aku bisa bertahan.

Sementara menyamakan diri dengan lingkup pergaulan kadang lebih mudah  dari pada harus menyamakan sisi-sisi personal. Sebenarnya ini yang menciptakan sebuah rasa tidak nyaman dalam berteman, dalam satu kamar. Oke sebut saja aku egois. Ya, aku egois karena tidak ingin membagikan hal-hal personalku dengan orang yang baru aku kenal sebulan.  Aneh saja mengatakan tentang dirimu ini dan itu kepada orang baru agar ia mengerti tentang keadaanmu. Buatku itu, basi dan memuakkan. Tapi kadang kenyataan dan keadaan memaksa kita untuk bertindak seperti itu. ah ya, tau tak mau.

Aku tak ingin menyudutkan personality traitsku sebagai penyebab pikiranku ini. yah, terlahir menjadi seorang introvert memang rumit, aku pun kadang tak bisa menjelaskan, menulis apalagi mengatakannya. Semua yang tak lain dan tak bukan adalah untuk menjaga perasaan orang lain agar tidak tersakiti .

Tunggu waktu. Sepertinya hak untuk menjadi pribadi yang bermental sehat adalah membicarakan tentang keadaan. Aku akan bertindak tapi tidak sekarang, tunggu.

 

Obrolan

Siang itu rasanya sudah tidak seliar dulu. Gemetar, gagap, gugup, ditambah rasa seolah ada kupu-kupu beterbangan dari perut. Aku lebih tenang, kamu lebih pandai merangkai kata. Kita terbius kalimat-kalimat mengasikkan.

Aku, belum pernah senyaman ini berbicara denganmu. Mendobrak meja dan nada bicaraku yang meninggi ketika emosi bisa kuluapkan. Bukan, bukan marah denganmu. Melainkan dengan cerita-ceritaku di kepalaku yang kusut. Kamu, masih saja santai. Duduk dengan sedikit senyum sambil mengamati aku.

Lalu, sampailah kita di obrolan sebuah perasaan dari orang tua. Kamu bercerita bahwa orang tua selalu tidak ingin terlihat menunjukkan perasaannya. Aku setuju. Bercerita tentang keluargamu, kucingmu, dan dosen-dosen yang memperlambat skripsimu. Jujur, bukan itu sebenarnya yang ingin kuobrolkan tapi, aku cukup senang bisa mengetahui itu.

Dari sekian panjangnya kata percakapan, jalan pikiran dan bahasa tubuh serta pertemanan selama dua tahun ini, Kamu tak layak hanya dijadikan seorang teman, tapi pasangan untuk masa depan  🙂